Curahan Rasa
Gwe mau mengawali masukan ini dengan kutipan sebuah lirik lagu yang gwe ambil dari bukunya Huston Smith, "Religions of Man"-yang udah diterjemahkan oleh Saafrudin Bahar menjadi "Agama-agama Manusia"- dalam Bab 2 Agama Hindu.
Bisakah air itu mereguk dirinya sendiri?
Dapatkan pohon menikmati rasa buah yang dihasilkanNya?
Ia yang memuja Tuhan harus berdiri terpisah dariNya.
Begitulah ia akan mengenal cinta Tuhan yang menggembirakan.
Sebab jika ia berkata bahwa Tuhan dan ia adalah satu
Kegembiraan itu, cinta itu, segera akan lenyap.
Jangan lagi berdoa untuk bersatu dengan Tuhan:
Di manakah lagi keindahan, jika permata dan cincinnya adalah sama?
Panas terik dan bayangan adalah dua hal,
Jika tidak, di manakah kesejukan bayangan?
Bunda dan putra adalah dua,
Jika tidak, di manakah cinta?
Di kala bertemu kembali setelah lama berpisah
Alangkah gembiranya mereka, bunda dan putra itu!
Di manakah kegembiraan, jika keduanya adalah satu?
Karena itu janganlah berdoa lagi untuk bersatu dengan Tuhan.
-Nyanyian oleh Tukaram. Diterjemahkan oleh John S. Holyland dalam And Indian Peasant Mystics (London: Alleson and Co., 1932)-
Gak ada maksud apa-apa. Dengan melihat lirik itu dari sudut yang lebih luas daripada sekedar bersatu dengan Tuhan, gwe cuma sangat terkesan dengan penekanan terhadap cinta itu ada bila ada dua insan yang terpisah dan tidak menyatu, sebab kalau mereka adalah satu, di manakah cinta? Dengan terpisah, kita dapat memberikan cinta dan menerima cinta. Cinta antar kedua insan itu komplementer, saling melengkapi. Gak perlu dijabarkan lebih lanjut lah, sesederhana ini.
Hahaha, tiba-tiba tercetus di pikiran, sebuah puisi sederhana.
Aku membutuhkan garam
karena aku bukanlah garam.
Dalam hambarku aku membutuhkan sebuah rasa
yang akan memperkaya hidupku
Selain itu janganlah garam kau mengendap
Aku kan jadi beras dalam tempurungmu
Selain bahagia karena selalu bisa bersamamu
Aku pun selalu bisa berguna sebagai peganganmu
Akhir-akhir ini masukan blog gwe kurang bisa lepas dari rasa-rasa ini. Agak capek sih sebenernya kalo ngeliat masukan-masukan dulu-dulu ya mirip-mirip ginilagi-ginilagi. Tapi ini kembali menyadarkan gwe bahwa gwe ini-menurut pembagian kepribadian secara psikologis (entah siapa sih yang menglasifikasikan ini?)- adalah seorang yang melankolis. Sesuai yang gwe pelajari waktu SMA, orang-orang melankolis itu cenderung bermain-main di wilayah rasa. Mereka adalah orang-orang yang sangat sensitif terhadap rasa. Sehingga mereka negatifnya cenderung sentimen, mudah tersinggung, pesimistis, sedangkan positifnya mereka cenderung lebih perasa terhadap orang lain, puitis, dan mendetil.
Walaupun memang hal-hal ini sudah jelas pasti tidak akan pernah absolut karena pasti kepribadian setiap orang berbeda-beda baik jenis maupun intensitasnya, tapi gwe salut buat orang-orang yang berhasil membagi-bagi klasifikasi kepribadian manusia secara umum.
Nah karena itu sekarang gwe gak menutup lagi diri gwe dengan masukan-masukan blog gwe yang cenderung mellow itu, karena itu memang kepribadian gwe. Dan itu terbukti dari awal gwe nulis blog yaitu jaman 3 SMP, isi blog itu sebagian besar berkaitan dengan curahan rasa, bukan curahan otak seperti yang beberapa waktu lalu mendominasi masukan-masukan gwe. Kalau gwe menjadi alergi dengan hal itu, akan menghambat hobi dan latihan menulis gwe yang gwe pikir bakal jadi masa depan gwe. Maka akan gwe kembalikan blog ini sesuai dengan nama yang gwe anugerahkan kepada blog ini yaitu Raison D'etre, reason for living. Menulis adalah bagian hidup gwe. Writing is my passion, seperti kata Fira Basuki. Maka gwe akan menantikan karya gwe nantinya akan beredar di toko-toko buku kesayangan kalian. Doakanlah haha. Itu pun kalau gwe akan membuat karya yang bukan blog =].
***
22 November
Tanggal 22 November mungkin akan menjadi tanggal yang akan selalu gwe ingat seumur hidup. Tidak cuma sehari itu saja, namun selama bulan November. Bukan karena penyesalan. Bukan karena pengharapan tak sampai. Bukan karena tidak bisa melupakan pengalaman dan orang-orang terkait. Melainkan karena sebuah rasa terimakasih yang teramat dalam kepada "pengatur langkah-langkah gwe", karena mulai hari itulah gwe mengenal cinta yang polos terhadap seorang gadis.
Sulit untuk menceritakan ini kepada kalian sambil meyakinkan bahwa kini hal itu hanya semata menjadi sebuah pengalaman dan pelajaran yang sangat berharga, setara dengan pengalaman-pengalaman hidup lain. Karena menurut gwe rangkaian pengalaman itu adalah kenangan indah yang memang tidak seharusnya dilupakan. Manusia selalu mengingat hal-hal manis dan membuang yang pahit, untuk kepuasan dirinya di hari tua mengenang indahnya masa-masa lalu, keinginan manusia yang pertama dari empat keinginan yang disebutkan dalam Hindu, yaitu mencari kesenangan. Sesuatu yang memang tidak akan kita bawa ke liang kubur atau tungku api. Namun apa gunanya hidup kalau kesenangan itu tidak dinikmati, ya kan?
Intinya di sub-masukan gwe yang ini, gwe mau menceritakan ulang pengalaman cinta pertama gwe, yang pernah gwe tulis blog gwe terdahulu tapi HILANG karena Forum Aestera itu pun hilang. Ingat, ini bukan berarti gwe menyesal, masih berharap, gak bisa lupa, masih cinta, dan sejenisnya. Masukan ini adalah agar kenangan manis ini gak terlupakan. Bilapun terlupakan, gwe masih bisa nginget karena gwe pernah nulis ini di sini. Bukankah tujuan kita nulis blog salah satunya adalah untuk menertawakan diri kita di zaman kita tua nanti? Hehehe.
November itu tahun 2003, masa-masa kelas 2 SMA, masa-masa terbaik gwe di Gonzaga. Masa di mana gwe telah menemukan benar-benar pelabuhan dan tambatan hati gwe satu-satunya, yaitu Gonzaga dan masyarakatnya. Hari-hari gwe lalui dengan tanpa kesedihan. Setiap hari gwe berharap hal yang sama, yaitu tetap bisa bangun keesokan harinya untuk kembali berangkat ke sekolah yang merupakan rumah kedua gwe. Jadi seperti kata Koxis, setiap hari gwe cuma pindah dari rumah yang satu ke rumah yang lain. Ya rumah. Not just a house, but a home sweet home. There's no Indonesian definition for "home".
Masa-masa itu juga adalah masa-masa gwe masih jarang dan cuek dengan tege, telepon genggam (istilah siapa hayau?). Waktu itu nomor gwe masih 081310063851 dan hapenya masih Nokia 6510, nomor yang hilang di Graha Bhakti Budaya menjelang pementasan BTB oleh Teater UI! Pulsa gwe saat itu gak pernah habis saat masa berlakunya habis. Pasti sisa minimal 50 ribu. Hal ini gwe sampaikan kepada Dito.
Dito: Kalo gitu nanti kalau masa berlakunya mau habis, kasih tahu gwe ya. Gwe pinjem buat gwe abisin, oke?
Gwe: Boleh boleh.
Gila, gwe masih inget cukup banyak detil waktu itu! Ini harus ditumpahin biar gak menuhin database!
Hari Sabtu, 8 November 2003 adalah hari terakhir masa berlaku pulsa periode itu. Pulsa gwe saat itu masih sekitar 70 ribuan kalo gak salah. Masa berlaku habis keesokan harinya. Maka gwe kasi tau Dito tentang hal itu. Dito pun minjem hape gwe untuk ngerjain ceweknya saat itu, Vina, dengan mengirimnya SMS-SMS yang bikin kesel atau penasaran, or sumthin like dat lah. School that day was over, and I went home with a usual senses.
Sampai di rumah gwe menerima SMS dari orang yang tidak gwe kenal. Ternyata dia temannya Vina (ce-nya Dito), ngakunya namanya siapa gitu, lupa deh gwe. Niatnya mau ngerjain gwe (atau ngerjain Dito yang berhubung pake nomor gwe). Ya gak mungkin yang ngerjain dikerjain. Gwe kerjain balik lah. Sabtu itu gwe SMS-an sama orang yang ngerjain gwe itu. Hingga besoknya masa berlaku habis dan tidak bisa SMS-an lagi. Isi pulsa lagi deh. Tapi beberapa SMS-nya gak gwe gubris lagi. Gwe kan saat itu orang yang males dengan hape (saat ini mulai cuek lagi sih hehe).
Seninnya gwe mengetahui dari Dito bahwa cewenya dah tahu kalo dia dikerjain. Gwe juga cerita kalo gwe dikerjain temen cewenya. Tertawalah kita. Trus gwe SMS lagi orang itu ngasih tahu jati diri asli gwe. Dia pun membalas dengan gondok. Akhirnya kita kenalan lewat SMS dan gwe dapati namanya Vika. Gwe sendiri memperkenalkan diri gwe dengan nama Didid.
Sejak itu gwe jadi sering SMS-an sama Vika. Konsumsi pulsa gwe jadi naik. Tiap hari SMS-an, padahal sebelumnya bisa sampai seminggu hape gak bertinit-tinit (kalo berdering kan kesannya telepon kuno, tinit-tinit hape monophonic, trungning-trungning hape polyphonic, berbunyi baru berkesan true tone *norak). Kemudian karena seringnya SMS-an kami semakin dekat, dan janjian ketemu di hari Sabtu.
Hari Sabtu, 15 November 2003 adalah hari kami bertemu untuk pertama kalinya. Dengan berbekal ingatan muka lewat foto fotobox bersamanya Vina dan Vika dari dikasih liat Dito, kami bertemu di Plasa Senayan, di Wendy's ya kalo gak salah? Ngobrol banyak. Lalu pertemuan selesai di sore hari.
Malamnya untuk pertama kali gwe meneleponnya. Lalu kita ngobrol banyak dan waktu itu gwe gak sadar bahwa itu adalah obrolan pertama gwe di telepon yang melampaui waktu sejam. Dan saat gwe menutup telepon, tiba-tiba gwe menyadari sesuatu yang lain. Rasa itu mulai muncul. Lupa apa yang kami bicarakan waktu itu, tapi hal itu membuat gwe merasa berharga. Beda. Sejak itu setiap hari gwe selalu menyempatkan malam untuk meneleponnya.
Entah Dito melihat apa yang berubah dari gwe atau emang dia cuma lagi iseng nyomblangin, tiba-tiba dia sering manas-manasin gwe biar gwe nembak Vika. Gelo, gwe bilang. Karena pada saat itu gwe kaga ngarti pacaran, sedangkan Vika sudah berkali-kali pacaran, minder atuh. Selain itu hati ini pun belum menetapkan perasaannya. Kompornya Dito muncak pada satu event yang melibatkan Vina dan Vika sekaligus berhubung mereka satu sekolah, yaitu pesta Sweet Seventeen senior mereka. Um.. tunggu kayaknya bukan itu deh.. Eh iya emang bukan dink!
Sabtu, 22 November 2006 kami berempat janjian nonton Eiffel I'm In Love bareng di Mal Kelapa Gading. Yeah, itulah pertemuan kedua gwe dengannya. Setelah itu kami mampir di rumah Vika yang emang deket situ. Mereka siap-siap untuk pergi ke pesta ultah senior mereka. Vina ngedance di pesta itu. Vika cuma diundang aja. Dito diajak Vina. Tapi waktu itu keadaan bingung karena gwe mesti pulang dan yang nganterin gwe itu Dito. Tapi itu sebelum kejadian besar terjadi.
Emang dasar sifat gwe iseng, gwe yang tahu bahwa Vika tidak suka kucing selalu ngisengin dia dengan bawa kucing masuk ke dalam rumahnya, terus gwe templokin ke kepalanya. Setelah beberapa kali dia mencak-mencak baru gwe keluarin tuh kucing. Eh sialnya tuh kucing keburu kesengsem sama rumah itu. Dia masuk-masuk terus lewat pagar. Vika bersikeras nyuruh gwe buang jauh-jauh tuh kucing. Ya udah akhirnya gwe berinisiatif untuk nenteng kucing itu buat dibuang jauh-jauh. Lumayan jauh lah, 300 meteran dari rumahnya.
Setelah balik gwe kaget ngeliat Dito dan Vina udah masuk ke mobil. Gwe emang tahu Vina bakal pergi ke rumah temennya buat latian dance, tapi gak secepat ini. Gwe samperin kaca mobil.
Gwe: Mau cabut sekarang?
Dito: Udah santai aja Naz, lo masuk aja dulu sana minta minum. Lo capek kan abis buang kucing?
Tapi lagak-lagak Dito dan Vina menyiratkan hal yang lain. Gwe tahu maksud lo Dit, Vin. Tapi emang gwe haus, ya udah gwe masuk ke dalam minta minum.
Selagi minum di depannya, gwe gak bisa natap matanya. Saat itu emang gwe dah suka ma dia. Akhirnya saat dia mau beranjak ke luar rumah, gwe tarik bahunya agar dia gak pergi dari hadapan gwe,
Gwe: Vik, sebenernya gwe suka sama lo.
Vika: Ha? ...trus?
Gwe: Ya... mau gak lo jadi cewek gwe?
Vika: Aduh gimana ya...
Gwe: ...
Vika: Harus jawab sekarang?
Gwe: Jawablah sekarang, seperti lo biasanya yang ceplas ceplos.
Vika: Ya... boleh deh.
Sabtu, 22 November 2003 sore, cinta pertama gwe terbalas.
Nah karenanya gwe pun akhirnya ikut Dito, Vina, dan Vika ke pesta itu. Dan hari berakhir dengan senyum lebar tersungging di kepala yang tergeletak di bantal kamar Dito malam itu (gwe terpaksa nginep di sana karena kemalaman).
Sejak itu pulsa gwe bisa habis. Bahkan dalam periode yang terlampau singkat. Tagihan telepon bengkak. Bela-belain jalan bareng pake mobil karena dia benci motor. Tiba-tiba gwe suka Hiphop RnB. Gwe masih teringat lagu Another Level - From The Heart. SMS paling kerennya berbunyi "Each time I miss u, a star falls down from the sky. So if u look toward the sky and find it dark with no star, it's all ur fault coz u made me miss u a lot". Dia manggil gwe Ibo, dari kata kribo. Gwe manggil dia Vii, dari lafal pengucapan "Phoe" di kata Phoenix (gwe menganggap ia Phoenix karena dia menghangatkan gwe dengan apinya setiap hari), tapi kayaknya sampe sekarang dia gak tau ini =P. Pembicaraan dangdut setiap malam. Dan kenangan lain.
Tapi semua itu harus berakhir dengan cepat. Entah kenapa waktu itu kita berantem? Sampai kita putus 20 Januari 2004 malam lewat telepon. Dan gwe terbangun besok paginya saat radio memutar lagunya Glenn Fredly - Januari, akibatnya seharian di sekolah gwe gak ada gairah.
Tapi putusnya kita ternyata sesuatu yang mungkin salah waktu itu, karena kita dekat lagi sejak Valentine Day 2004. Bahkan November 2004 gwe menciptakan lagu yang didedikasikan buat dia, berjudul "I Can't Forget You". Setelah itu gwe lupa detilnya. Yang pasti dia punya cowo lagi bernama Adit, sedangkan gwe gak mau kalah dengan Adit. Tapi ternyata Juni 2005 gwe harus rela ngelepas dia selama-lamanya karena dia lebih milih Adit (najis, namanya dit dit juga gini). Gwe inget itu waktu gwe baru mau pulang dari Jogja sendirian. Sebelum take off, gwe SMS dia menuntut kejelasan perasaan dia terhadap gwe atau terhadap Adit? Setelah mendapatkan jawaban, air mata mengalir pelan di pipi. Dalam perjalanan menuju Jakarta di atas pesawat gwe mandangin semua SMS darinya yang pernah gwe simpan. Lalu gwe hapus satu per satu, sekaligus berharap gwe bisa melupakan mimpi buruk ini.
Sejak itu, gwe saat itu selalu menyesal kenapa gwe harus kenal dia di saat gwe sedang menikmati hidup gwe yang sedang kaga butuh cewek dan dikelilingin oleh segala hal yang baik yang ada di Gonzaga. Kalau gwe gak kenal dia, bisa tetap menikmati ini semua tanpa beban. Saat itu gwe berpikir demikian.
Namun gwe kembali berpikir, kalau gak sekarang gwe mengalami hal ini, gwe akan mengalami hal yang sama di waktu yang lain. Jadi sama aja. Dari situ gwe mulai bisa menerima kenyataan itu, dan mengambil intisari dari situ, yang ternyata banyak pelajaran berharga yang gwe dapatkan daripada sekedar kesedihan dan kebencian.
Gwe mulai menelaah makna dari pepatah "First love never die". Gwe setuju dengan hal ini tidak karena first love selalu ada di hati dan gak bisa dilupain atau kita selalu sayang sama first love. Gwe setuju dengan lebih melihat pada pengalaman pertama kita menjalani cinta itu. Gwe menyebutnya cinta polos. Cinta yang tidak berharap menerima, hanya ingin memberi. Walau akhirnya nantinya kita akan belajar bahwa cinta lebih dari sekedar itu, namun pengalaman pertama memang selalu berkesan di hati setiap orang baik apapun itu.
Kini semua itu hanya merupakan kenangan manis. Gwe kangen dengan Vika karena emang dia pernah jadi bagian penting gwe. Tapi masalah perasaan, I'm over with it precisely sejak Juli tahun lalu =] Woy, ke mana lo gwe SMS kaga pernah bales!?
Hahaha, ngomong2 Juli tahun lalu, gwe ngebuang semua rasa itu waktu gwe pergi ke Bandung bareng Jawa, Bowo, Ara, dan Lolong naik motor. 13 Juli 2005 kami sampai di Bella Vista. Malamnya belanja MANSION HOUSE(!) dan kita mabok semalaman. Tepatnya bukan kita, tapi CUMA GWE. Gila, gwe dicekokin Mansion House Whisky 2 setengah botol. Langsung curhatan2 gwe tentang Vika keluar semua. Tepatnya bukan keluar, tapi karena ditanyain, dan yang nanya adalah penanya ulung macam Ara dan Jawa, jadilah semua rasa gwe terkuak. Salah satu pembicaraan kita waktu itu,
Ara: Lo katanya mau ngelupain Vika, kok dibicarain terus sih, Naz?
Gwe: MAKANYA JANGAN DITANYAIN TERUS! KALO DITANYAIN TERUS YA GWE GAK BISA LUPA, GOBLOK! (semacam itu lah, gwe agak lupa)
Tapi setelah itu perasaan gwe lega. Jackpot membuang semua kenangan pahit. Dinginnya udara puncak menyejukkan hati yang kosong. Sejuknya Lembang menentramkan pikiran kacau. Dan indahnya Tangkuban Perahu membuka pikiran gwe luasKa.
Demikianlah sepenggal kisah lama. Sebenarnya gwe pengen nginget lebih banyak hal lagi. Di blog gwe yang hilang itu setiap jengkal kisah kita tertulis. Tapi gak mungkin gwe inget sedetil itu sekarang. Jadi cuma ini yang bisa gwe ceritain. Hehehe, kayak penting aja. Mungkin orang berpikir, kok bisa Ignaz menceritakan hal pribadi gini di blog yang dibaca semua orang? Karena gwe gak mau mengungkung diri gwe dengan rahasia. Rahasia itu nyiksa diri. Rahasia butuh orang yang kita percaya untuk menyimpannya dan kita bisa tersiksa kalo rahasia itu tersebar. Lagipula terbebani atau tidak itu kan sebenarnya hanya masalah hati. Udah mulai ngalor ngidul ngasal.
Sekali lagi, gwe nulis ini bukan karena gwe masih ada rasa sama dia. Cuma mau mengenang 22 November. Sekian.
***
Hari Persahabatan
Gwe lupa gwe baca ini di blog siapa ya? Tentang International Friendship Day. Di blognya dia bilang bahwa teman dan sahabat itu punya peran yang gak kalah penting dari orangtua, masa gak ada harinya? Begitu dia cari info tentang hari persahabatan, ternyata International Friendship Day itu emang ada. Harinya adalah hari Minggu pertama di bulan Agustus. Jadi teman-teman, kita ramaikan yuk Hari Persahabatan =]. Give a monumental present to your precious friends, untuk memberitahu mereka bahwa mereka semua berarti buat kalian.
Thank you buat yang blognya gwe baca waktu itu (Sori lupa). Inspirasional.
***
Thursday, November 23, 2006
Sunday, October 01, 2006
Tumpahan Hormon
Hormon sedang bekerja keras nih.
Garagara apa?
Ada yang menarik perhatian sih.
Bawaannya jadi uringuringan.
Jadi kepikiran.
Jadi males ngapangapain.
Dan gwe udah melewati hal seperti ini berkalikali.
Dan itu selalu berakhir gitu aja.
Jadi berarti gwe ini gak benerbener serius kan?
Kalo emang tertarik mestinya gwe gak akan pernah lupa donk.
Ya, emang yang lalu baru aja berlalu,
Tapi baru aja selesai, kini dateng lagi yang baru.
Kayaknya gwe ditakdirkan untuk selalu merasa seperti ini.
Merasa uringuringan.
Tapi heran.
Yang satu itu dah rada lama.
Masih kepikiran.
Belum ada pergerakan sih.
Nah bawaannya jadi mellow
Herannya tadi gwe gak suka dengar lagu mellow
Jadinya cuma tidur seharian
Berusaha mengatasi perasaan ini
Banyak orang menyerah dan akhirnya mendekati obyek
Nembak
Jadian lalu pacaran
Lalu putus saat hormon itu dah gak bekerja lagi dalam jalan yang sama.
Gwe adalah orang yang gak mau menyerah sama hormon.
Biarlah hormon ini mempengaruhi gwe.
Tapi gwe gak akan kalah berseteru.
Biarlah pikiran gwe terkontaminasi asal gerakan gwe tidak melukai orang lain.
Kenapa hormon?
Katanya ya, saat orang jatuh cinta
Orang yang membuat kita tertarik itulah stumulus terhadap suatu zat yang ada di otak kita
Dan zat itu akan membuat hormon kita membludak di seluruh tubuh
Membuat kita terpedaya oleh perasaan semu.
Kalah oleh tubuh?
Padahal tubuh kita dikendalikan oleh pikiran kita?
***
Heran, gwe gak pernah bisa login ke Lucid. Bisa sih bacabaca doank. Tapi bete juga lamalama gak bisa nimpalin. Walaupun palingpaling timpalan gwe adalah hal paling gak penting yang bakalan masuk dalam daftar postingan (apa pula itu postingan, kenapa gak 'terkirim' gitu).
Tapi perasaan gwe bukan seperti dulu lagi, yang menganggap komunitas itu adalah tempat gwe lari dari kenyataan dunia. Sekarang komunitas itu bagaikan teman lama yang sudah lama ingin ketemu, saling bertegur sapa dan ceritacerita. Biar aja semuanya gak sama dengan dulu. Perubahan kan pasti terjadi.
Apakah nanti kalau gwe bertemu mereka, masih tetap dengan ketidakjelasan ngumpul di foodcourt dan gambargambar serta main tarot? Atau mereka sudah berubah menjadi orangorang yang beringgris ria? Apa masih ada keceriaan seperti dulu, yang kalo dipikir tawatawa itu adalah ngetawain orang sih, yaitu member lain yang aneh menurut mereka (kita, dulu).
Apakah Merc masih kocak gila kayak dulu, yang kalo ngomongin sesuatu pasit ada cara untuk membuat cerita itu jadi kocak? Apakah HK masih diam berwibawa seperti dulu? Apakah Catshade masih tetap seorang observer yang sulit buka suara? Apakah Rave masih dengan pengetahuannya yang bejibun itu, dengan gayanya headphone dan mp3 player digantung di leher, serta selalu pake jaket sporty itu? Apakah Hanhan masih sering dicengin? Apakah Yos masih gila gambar, atau bahkan kini kemampuannya telah meningkat pesat sementara gwe gak memperhatikan lagi karyakaryanya? Apakah Sasko masih adalah orang paling friendly yang pernah gwe kenal lewat komunitas internet? Apakah Ron masih tetap kurus, insomnia, dan gila kopi seperti dulu? Apakah Razzly masih bagai adiknya Rave yang selalu dijahili kakaknya itu? Apakah Dogg masih malumalu seperti awalawal gwe ketemu dia sekalikalinya waktu itu?
Dan sebenarnya masih banyak pengalaman lain yang gak bisa gwe inget semua. Walau apapun yang terjadi baik maupun buruk, semua itu berharga dan gak boleh gwe melupakan apalagi memutus hubungan begitu saja. Rasa kangen ini adalah rasa terhadap temanteman lama. Rasa kangen yang peduli atas bagaimana perkembangan orangorang yang pernah begitu dekat dengan gwe.
Gwe yakin semuanya pun sadar akan hal ini. Indah ya? Since we're only connected through wired.
Garagara apa?
Ada yang menarik perhatian sih.
Bawaannya jadi uringuringan.
Jadi kepikiran.
Jadi males ngapangapain.
Dan gwe udah melewati hal seperti ini berkalikali.
Dan itu selalu berakhir gitu aja.
Jadi berarti gwe ini gak benerbener serius kan?
Kalo emang tertarik mestinya gwe gak akan pernah lupa donk.
Ya, emang yang lalu baru aja berlalu,
Tapi baru aja selesai, kini dateng lagi yang baru.
Kayaknya gwe ditakdirkan untuk selalu merasa seperti ini.
Merasa uringuringan.
Tapi heran.
Yang satu itu dah rada lama.
Masih kepikiran.
Belum ada pergerakan sih.
Nah bawaannya jadi mellow
Herannya tadi gwe gak suka dengar lagu mellow
Jadinya cuma tidur seharian
Berusaha mengatasi perasaan ini
Banyak orang menyerah dan akhirnya mendekati obyek
Nembak
Jadian lalu pacaran
Lalu putus saat hormon itu dah gak bekerja lagi dalam jalan yang sama.
Gwe adalah orang yang gak mau menyerah sama hormon.
Biarlah hormon ini mempengaruhi gwe.
Tapi gwe gak akan kalah berseteru.
Biarlah pikiran gwe terkontaminasi asal gerakan gwe tidak melukai orang lain.
Kenapa hormon?
Katanya ya, saat orang jatuh cinta
Orang yang membuat kita tertarik itulah stumulus terhadap suatu zat yang ada di otak kita
Dan zat itu akan membuat hormon kita membludak di seluruh tubuh
Membuat kita terpedaya oleh perasaan semu.
Kalah oleh tubuh?
Padahal tubuh kita dikendalikan oleh pikiran kita?
***
Heran, gwe gak pernah bisa login ke Lucid. Bisa sih bacabaca doank. Tapi bete juga lamalama gak bisa nimpalin. Walaupun palingpaling timpalan gwe adalah hal paling gak penting yang bakalan masuk dalam daftar postingan (apa pula itu postingan, kenapa gak 'terkirim' gitu).
Tapi perasaan gwe bukan seperti dulu lagi, yang menganggap komunitas itu adalah tempat gwe lari dari kenyataan dunia. Sekarang komunitas itu bagaikan teman lama yang sudah lama ingin ketemu, saling bertegur sapa dan ceritacerita. Biar aja semuanya gak sama dengan dulu. Perubahan kan pasti terjadi.
Apakah nanti kalau gwe bertemu mereka, masih tetap dengan ketidakjelasan ngumpul di foodcourt dan gambargambar serta main tarot? Atau mereka sudah berubah menjadi orangorang yang beringgris ria? Apa masih ada keceriaan seperti dulu, yang kalo dipikir tawatawa itu adalah ngetawain orang sih, yaitu member lain yang aneh menurut mereka (kita, dulu).
Apakah Merc masih kocak gila kayak dulu, yang kalo ngomongin sesuatu pasit ada cara untuk membuat cerita itu jadi kocak? Apakah HK masih diam berwibawa seperti dulu? Apakah Catshade masih tetap seorang observer yang sulit buka suara? Apakah Rave masih dengan pengetahuannya yang bejibun itu, dengan gayanya headphone dan mp3 player digantung di leher, serta selalu pake jaket sporty itu? Apakah Hanhan masih sering dicengin? Apakah Yos masih gila gambar, atau bahkan kini kemampuannya telah meningkat pesat sementara gwe gak memperhatikan lagi karyakaryanya? Apakah Sasko masih adalah orang paling friendly yang pernah gwe kenal lewat komunitas internet? Apakah Ron masih tetap kurus, insomnia, dan gila kopi seperti dulu? Apakah Razzly masih bagai adiknya Rave yang selalu dijahili kakaknya itu? Apakah Dogg masih malumalu seperti awalawal gwe ketemu dia sekalikalinya waktu itu?
Dan sebenarnya masih banyak pengalaman lain yang gak bisa gwe inget semua. Walau apapun yang terjadi baik maupun buruk, semua itu berharga dan gak boleh gwe melupakan apalagi memutus hubungan begitu saja. Rasa kangen ini adalah rasa terhadap temanteman lama. Rasa kangen yang peduli atas bagaimana perkembangan orangorang yang pernah begitu dekat dengan gwe.
Gwe yakin semuanya pun sadar akan hal ini. Indah ya? Since we're only connected through wired.
Everyone Do Theater For Living
Walau ada kata everyone di judulnya, nyatanya Ini bukan tulisan mengenai semua orang. Ini cuma mengenai gwe dan perbandingannya dengan orang lain. Panjang sih, klo niat baca dan penasaran ma gwe ya monggo. Kalo lo ngerasa gwe tuh gak penting, tutup ada deh window ini.
***
Beberapa hari ini gwe melihat atau membaca atau mendengar pengakuan dan kenyataan bahwa apa yang gwe tulis di judul itu benar, yaitu dari kehidupan lima orang di sekitar gwe. Tentu saja kebenaran ini baru merupakan hipotesis yang belum dibuktikan secara sistematis dan empiris sehingga menghasilkan apa yang namanya teori baru. Tapi buat apa pembuktian itu? Kalimat itu kan cuma puitisasi dari kenyataan bahwa manusia itu makhluk sosial. Tapi yang menarik gwe liat adalah gwe bagaikan sedang menonton pertunjukan teater bila melihat mereka. Dan yang membuat gwe bisa melihat bahwa itu adalah permainan teater adalah karena gwe diizinkan mereka untuk menjadi salah satu kru backstage mereka.
Mereka main teater, gwe kru backstage, tidak semata sebagai penonton. Maksud?
Simpel, gwe dipercaya sebagai orang yang pantas mengetahui semua itu. Dengan kata lain, teman dekat. Walaupun ada beberapa orang yang menyajikan itu secara gamblang seolah memperlihatkan isi perut sendiri, kenapa makanan jadi tai proses itu dipertontonkan begitu saja ke semua orang, untuk membangunkan mereka entah dari mimpi apa.
Yang gwe lihat pada orang pertama adalah bagaimana orang itu bermain secara total di dunia panggung sandiwara ini sehingga ia mendapatkan empati dari orang lain yang berlaku sebagai penonton. Dengan peran yang dia mainkan itu dia berhasil menghanyutkan orang lain dalam skenario cerita yang sedang dilakoninya. Dia berperan sebagai orang yang ceria, murah senyum, dan selalu meramaikan suasana. Dan bagaikan sihir, semua orang menganggap itulah kepribadiannya. Kepribadian yang menyenangkan. Orangorang selalu senang berada dekat dengannya.
Tapi gwe sempat sedikit banyak berhasil menyelinap ke dalam backstage, melihat bagaimana dia mempersiapkan diri untuk masuk pentas. Sebuah kepribadian yang berbeda terpampang di depan mata gwe. Dan ketika mata gwe bertemu dengan matanya, dia kembali tersenyum. Dan kami berdua membicarakan sedikit tentang hal ini, dan raut wajah yang kulihat adalah raut wajah jujur yang mungkin dari dulu ingin dia ungkapkan. Maksudnya, semoga aja dia jujur kalau pengakuan itu bukanlah aksi panggung yang lain darinya. Namun berada di salah satu backstage panggungnya pun sudah merupakan pleasure tersendiri buat gwe.
Did her magic effect me?
Yang gwe lihat dari orang kedua adalah peran berbeda di berbagai panggung yang ada di dunia. Mirip dengan apa yang gwe lakukan. Bedanya dia kurang improvisasi dan setiap aksi yang dia lakukan tidak seluruhnya disadari olehnya. Ibarat kata kalau dia bermain teater, panggung belakangnya rada transparan, sehingga terlihat apakah dia sedang menghapal naskah atau berlatih atau kecewa karena kecele atau coli. Niatnya bisa terlihat, walau dia selalu bisa membuat dalih bahwa pada saat niatnya terlihat dia sedang dalam peran yang lain. Oke oke. Tapi mengetahui backstagenya juga sebuah pleasure buat gwe. Karena sedikit banyak dia bisa jujur ke gwe.
Pada orang yang ketiga, gwe melihat sisi ekstrim seorang pemain teater. Dia adalah seorang big star yang selalu ditepuki penonton kalau dia bermain, tanpa penonton tahu bagaimana isi si pemain sebenarnya. Penonton melihat big star ini adalah sifat yang sama, baik di pentas maupun di luar pentas. Hal ini terjadi karena di setiap pentas yang ia jalani, itulah karakter yang dia mainkan. Sehingga penonton dibuat bingung oleh penampilannya yang suatu hari bertolak belakang. Pemain ini telah mencapai tingkat kejenuhannya yang terberat sehingga ia tidak tahan lagi dan akhirnya membawa perasaan itu keluar dari backstage. Pada orang ini gwe mengagumi kedua posisinya baik di frontstage maupun backstage, karena di kedua sisi itu dia berperan dengan sangat jujur, walaupun tidak menampik kemungkinan bahwa perannya yang dipujapuja itu lamalama akan menjenuhkan. Dan gwe pun pernah diajak berkelilingkeliling di backstage miliknya dan bersandiwara bersama di sana.
Pada orang yang keempat, gwe melihat seorang pemain teater tulen yang gak pernah bisa gwe masukin backstagenya. Atau tepatnya gwe gak tau yang mana backstagenya sebenarnya. Dia adalah orang yang hidup di panggung sandiwara, bahkan mungkin dia tidak mempunyai backstage. Atau dia berhasil menciptakan backstage yang tidak pernah bisa dijangkau penonton. Dia melakukan ini untuk apa, sulit diketahui. Dia mempunyai temanteman dekat yang mungkin pernah melihat backstagenya, namun begitu pertemanan itu rusak, maka rusak tak bisa kembali lagi. Gwe pun menjadi bingung lagi, teman dekat ini adalah skenario atau bukan? Dialah pemain teater tulen yang tidak pernah bisa gwe tebak. Bilapun dia mempertontonkan backstagenya, gwe juga gak yakin itu backstage dari panggung tempat di main sekarang.
Pada orang kelima, gwe melihat orang yang sulit bermain teater dikarenakan dia tidak pernah bisa jujur dengan peran yang dia mainkan. Backstage dan frontstage baginya tercampur aduk. Tapi gwe melihat itu lebih sebuah proses belajar. Gwe beruntung karena gwe diperbolehkan melihat keseluruhan gedung yang ia pakai sebagai backstage dan frontstage. Senang karena gwe dipercaya sebagai salah seorang dari pendampingnya, pembimbing, dan teman bermain sekaligus.
Cape gak sih dari tadi membahasnya analogi? Yesus ngomongin analogi juga orang banyak yang gak ngerti. Lagipula kok betahbetahnya Ignaz nulis sesuatu yang astrak panjangpanjang gini?
Apa boleh buat ini hobi gwe. Kayak kata Fira Basuki, "Writing is my passion." Menulis adalah hasrat gwe. Walaupun gwe belum bisa menulis secara sistematis apa yang ada di pikiran gwe kayak Koxis, belum bisa menulis secara mendalam dan bisa direnungkan seperti Mang Ucup, belum bisa menulis secara kritis dan solutif seperti orangorang yang ada di milismilis Yahoo Group gwe-yang sekarang udah membuat kuota Yahoo Mail gwe 1 Giga itu HABIS. Bayangin aja ada 10 ribuan email masuk yang gak gwe hapushapusin.-. Walaupun gwe belum bisa semua itu, tapi dengan menulis ini gwe belajar. Mogamoga.
Balik ke topik, lalu Naz, lo sendiri apa peran lo di panggung sandiwara ini?
Gwe lebih melihat gwe sebagai pemain teater yang larilari dari panggung satu ke panggung lain untuk melaksanakan peran yang berbeda. Dan anggapan gwe sih tidak ada yang pernah melihat backstage gwe. Ada sih yang gwe perlihatkan permukaannya, tapi itu belum semua. Gwe takut memperlihatkan isi backstage gwe yang bobrok, kotor, semua hasil latian gwe ada di situ. Semua naskah yang gwe coretcoret, gwe fotokopi, gwe revisi, berserakan ada di sana semua. Semua atribut yang rusak atau bagus, atau hasil eksperimen gwe untuk gwe tampilkan di pangung itu ada semua. Jadi gwe ngerasa sebagai aib kalau backstage gwe itu kesempetan dilihat orang lain. Gwe masih belum bisa percaya orang lain untuk hal itu.
Karena itu gwe membiarkan orang melihat dari apa yang tampilkan di panggung. Itupun berbedabeda. Di panggung satu gwe adalah seorang yang gila, liar, gak (mau) tau aturan, sapenake dewe, penuh idealisme, dan anarkis. Di panggung yang lain gwe adalah seorang pendiam yang selalu berusaha mengikuti peraturan yang ada. Di panggung lain gwe adalah orang yang perenung, penuh pemikiran, kritis, dan solutif. Di panggung lain gwe adalah orang yang romantis, puitis. Di panggung lain gwe adalah seorang pengecut belaka. Di panggung lain gwe adalah orang yang berusaha memimpin dan berusaha membuat cerita menjadi sesuatu yang paling wah yang pernah ditonton penonton.
Dan yang membuat gwe heran sendiri, semua itu gwe lakukan dengan jujur.
Tapi kejujuran itu jadi kacau pada saat panggung satu dan yang lain saling bertabrakan. Peran apa yang harus gwe mainkan di situ?
Mungkin gwe bisa disebut sebagai bukan orang yang menikmati bermain teater di berbagai tempat, tapi orang yang terjebak dalam sebuah pementasan teater dan sulit keluar karena skenario mengharuskan gwe ada di situ.
Kapan donk gwe jadi sutradaranya?
Jadi mungkin apa yang kalian lihat dari gwe sekarang mungkin akan berbeda dengan yang orang lain lihat. Gwe akui gak cuma gwe yang begini. Semua orang juga gini, tapi gwe cuma mau kasih warning bahwa belum tentu apa yang lo ingat sebagai Ignaz itu adalah siapa yang lo kenal sebagai Ignaz itu sendiri. Karena prinsip gwe yang selalu mengatakan bahwa gwe harus selalu bisa diterima di panggung mana pun.
Gwe buka sedikit.
Gwe harus bisa diterima di lingkungan keluarga, lingkungan rumah, tementemen SMP, tementemen Gonz, tementemen kampus, tementemen Teater UI, tementemen forum di internet, dan tementemen lain.
Gwe adalah orang yang tidak suka ada kebencian terjadi antara gwe dan orang lain.
Begitu pun kebencian antar orang lain.
Gwe akan sangat menderita pada saat teman gwe punya konflik dengan teman gwe yang lain.
Walaupun mungkin gwe gak ada urusan apaapa dengan perseteruan mereka, gwe akan merasa gak enak berada di kedua kubu. Seperti barubaru ini terjadi sebuah ketegangan di antara kedua teman gwe yang membuat gwe jadi susah berhubungan dengan keduanya. Ini contoh distorsi panggung yang selalu gwe alami.
Tapi lama kelamaan gwe mulai meninggalkan peranperan yang gwe rasa terlalu berat untuk gwe jalani. Gwe mulai merasa jenuh dengan peran itu, sehingga untuk panggung itu gwe tidak lagi memerankan peran yang sama. Awalnya penonton memang kaget, namun gwe rasa penonton sudah mulai bisa menerima itu.
Tapi dua yang sama sekali belum pernah gwe rasakan di setiap panggung, yaitu tepuk tangan penonton dan tawatangislega bersama para kru di backstage setelah pementasan selesai. Karena gwe gak yakin siapasiapa aja kru backstage yang ada di sana yang mendukung pentas gwe.
Astaga capekcapek baca blognya Ignaz tapi gak dapet apaapa, cuma dapet pelajaran teater itu pun sok tahu gitu deh. Kasian de gwe, adu bo cape de. Yah, dasar seorang introvert yang gak bisa keluar dari ke-intovert-annya!
Saat ini apa yang membuat gwe punya energi untuk tetap tersenyum adalah karena gwe masih percaya bahwa ada kru backstage yang selalu mendukung peran gwe baik dari setting, lighting, sound, make up, dan wardrobe. Dan kepercayaan lain bahwa karena gwe berada dalam sebuah pementasan berskenario, maka semua pemain yang ada di sekitar gwe pasti akan menciptakan sebuah cerita yang paling menyenangkan untuk penonton, sehingga imbasnya pun menyenangkan ke kami para pemain. Hyuuk...!
***
Gwe lagi agak kesal karena ada testimonial dari seseorang, yang pengen gwe jadiin bahan tulisan, HILANG.
Satu lagi yang bikin gwe kesal. Gwe nulis blog itu dari 3 SMP. Tapi blog gwe sejak jaman kelas 1-2 SMA ilang garagara gwe taruh itu di sebuah forum yang sekarang dah hilang. Tai juga sih. Emang isinya gak penting, tapi gwe pengen liati lagi ke belakang, gimana gwe berkembang sampai akhirnya menjadi seperti sekarang. Bagaimana perkembangan pemikiran gwe sebenernya? Gwe kalo ngeliat blog gwe jaman 3 SMP itu kocak abis. Sentimentil banget deh, benerbener masamasa di mana gwe sangat perasa. Semua aja gwe masukin ke hati, tanpa lewat rasio. Jadi bawaannya sensi, sentimentil, bete, seneng, pokoknya moodmood-an.
Masa lalu kita lewati untuk kita tertawakan. Hingga akhirnya bisa kita banggakan.
***
Beberapa hari ini gwe melihat atau membaca atau mendengar pengakuan dan kenyataan bahwa apa yang gwe tulis di judul itu benar, yaitu dari kehidupan lima orang di sekitar gwe. Tentu saja kebenaran ini baru merupakan hipotesis yang belum dibuktikan secara sistematis dan empiris sehingga menghasilkan apa yang namanya teori baru. Tapi buat apa pembuktian itu? Kalimat itu kan cuma puitisasi dari kenyataan bahwa manusia itu makhluk sosial. Tapi yang menarik gwe liat adalah gwe bagaikan sedang menonton pertunjukan teater bila melihat mereka. Dan yang membuat gwe bisa melihat bahwa itu adalah permainan teater adalah karena gwe diizinkan mereka untuk menjadi salah satu kru backstage mereka.
Mereka main teater, gwe kru backstage, tidak semata sebagai penonton. Maksud?
Simpel, gwe dipercaya sebagai orang yang pantas mengetahui semua itu. Dengan kata lain, teman dekat. Walaupun ada beberapa orang yang menyajikan itu secara gamblang seolah memperlihatkan isi perut sendiri, kenapa makanan jadi tai proses itu dipertontonkan begitu saja ke semua orang, untuk membangunkan mereka entah dari mimpi apa.
Yang gwe lihat pada orang pertama adalah bagaimana orang itu bermain secara total di dunia panggung sandiwara ini sehingga ia mendapatkan empati dari orang lain yang berlaku sebagai penonton. Dengan peran yang dia mainkan itu dia berhasil menghanyutkan orang lain dalam skenario cerita yang sedang dilakoninya. Dia berperan sebagai orang yang ceria, murah senyum, dan selalu meramaikan suasana. Dan bagaikan sihir, semua orang menganggap itulah kepribadiannya. Kepribadian yang menyenangkan. Orangorang selalu senang berada dekat dengannya.
Tapi gwe sempat sedikit banyak berhasil menyelinap ke dalam backstage, melihat bagaimana dia mempersiapkan diri untuk masuk pentas. Sebuah kepribadian yang berbeda terpampang di depan mata gwe. Dan ketika mata gwe bertemu dengan matanya, dia kembali tersenyum. Dan kami berdua membicarakan sedikit tentang hal ini, dan raut wajah yang kulihat adalah raut wajah jujur yang mungkin dari dulu ingin dia ungkapkan. Maksudnya, semoga aja dia jujur kalau pengakuan itu bukanlah aksi panggung yang lain darinya. Namun berada di salah satu backstage panggungnya pun sudah merupakan pleasure tersendiri buat gwe.
Did her magic effect me?
Yang gwe lihat dari orang kedua adalah peran berbeda di berbagai panggung yang ada di dunia. Mirip dengan apa yang gwe lakukan. Bedanya dia kurang improvisasi dan setiap aksi yang dia lakukan tidak seluruhnya disadari olehnya. Ibarat kata kalau dia bermain teater, panggung belakangnya rada transparan, sehingga terlihat apakah dia sedang menghapal naskah atau berlatih atau kecewa karena kecele atau coli. Niatnya bisa terlihat, walau dia selalu bisa membuat dalih bahwa pada saat niatnya terlihat dia sedang dalam peran yang lain. Oke oke. Tapi mengetahui backstagenya juga sebuah pleasure buat gwe. Karena sedikit banyak dia bisa jujur ke gwe.
Pada orang yang ketiga, gwe melihat sisi ekstrim seorang pemain teater. Dia adalah seorang big star yang selalu ditepuki penonton kalau dia bermain, tanpa penonton tahu bagaimana isi si pemain sebenarnya. Penonton melihat big star ini adalah sifat yang sama, baik di pentas maupun di luar pentas. Hal ini terjadi karena di setiap pentas yang ia jalani, itulah karakter yang dia mainkan. Sehingga penonton dibuat bingung oleh penampilannya yang suatu hari bertolak belakang. Pemain ini telah mencapai tingkat kejenuhannya yang terberat sehingga ia tidak tahan lagi dan akhirnya membawa perasaan itu keluar dari backstage. Pada orang ini gwe mengagumi kedua posisinya baik di frontstage maupun backstage, karena di kedua sisi itu dia berperan dengan sangat jujur, walaupun tidak menampik kemungkinan bahwa perannya yang dipujapuja itu lamalama akan menjenuhkan. Dan gwe pun pernah diajak berkelilingkeliling di backstage miliknya dan bersandiwara bersama di sana.
Pada orang yang keempat, gwe melihat seorang pemain teater tulen yang gak pernah bisa gwe masukin backstagenya. Atau tepatnya gwe gak tau yang mana backstagenya sebenarnya. Dia adalah orang yang hidup di panggung sandiwara, bahkan mungkin dia tidak mempunyai backstage. Atau dia berhasil menciptakan backstage yang tidak pernah bisa dijangkau penonton. Dia melakukan ini untuk apa, sulit diketahui. Dia mempunyai temanteman dekat yang mungkin pernah melihat backstagenya, namun begitu pertemanan itu rusak, maka rusak tak bisa kembali lagi. Gwe pun menjadi bingung lagi, teman dekat ini adalah skenario atau bukan? Dialah pemain teater tulen yang tidak pernah bisa gwe tebak. Bilapun dia mempertontonkan backstagenya, gwe juga gak yakin itu backstage dari panggung tempat di main sekarang.
Pada orang kelima, gwe melihat orang yang sulit bermain teater dikarenakan dia tidak pernah bisa jujur dengan peran yang dia mainkan. Backstage dan frontstage baginya tercampur aduk. Tapi gwe melihat itu lebih sebuah proses belajar. Gwe beruntung karena gwe diperbolehkan melihat keseluruhan gedung yang ia pakai sebagai backstage dan frontstage. Senang karena gwe dipercaya sebagai salah seorang dari pendampingnya, pembimbing, dan teman bermain sekaligus.
Cape gak sih dari tadi membahasnya analogi? Yesus ngomongin analogi juga orang banyak yang gak ngerti. Lagipula kok betahbetahnya Ignaz nulis sesuatu yang astrak panjangpanjang gini?
Apa boleh buat ini hobi gwe. Kayak kata Fira Basuki, "Writing is my passion." Menulis adalah hasrat gwe. Walaupun gwe belum bisa menulis secara sistematis apa yang ada di pikiran gwe kayak Koxis, belum bisa menulis secara mendalam dan bisa direnungkan seperti Mang Ucup, belum bisa menulis secara kritis dan solutif seperti orangorang yang ada di milismilis Yahoo Group gwe-yang sekarang udah membuat kuota Yahoo Mail gwe 1 Giga itu HABIS. Bayangin aja ada 10 ribuan email masuk yang gak gwe hapushapusin.-. Walaupun gwe belum bisa semua itu, tapi dengan menulis ini gwe belajar. Mogamoga.
Balik ke topik, lalu Naz, lo sendiri apa peran lo di panggung sandiwara ini?
Gwe lebih melihat gwe sebagai pemain teater yang larilari dari panggung satu ke panggung lain untuk melaksanakan peran yang berbeda. Dan anggapan gwe sih tidak ada yang pernah melihat backstage gwe. Ada sih yang gwe perlihatkan permukaannya, tapi itu belum semua. Gwe takut memperlihatkan isi backstage gwe yang bobrok, kotor, semua hasil latian gwe ada di situ. Semua naskah yang gwe coretcoret, gwe fotokopi, gwe revisi, berserakan ada di sana semua. Semua atribut yang rusak atau bagus, atau hasil eksperimen gwe untuk gwe tampilkan di pangung itu ada semua. Jadi gwe ngerasa sebagai aib kalau backstage gwe itu kesempetan dilihat orang lain. Gwe masih belum bisa percaya orang lain untuk hal itu.
Karena itu gwe membiarkan orang melihat dari apa yang tampilkan di panggung. Itupun berbedabeda. Di panggung satu gwe adalah seorang yang gila, liar, gak (mau) tau aturan, sapenake dewe, penuh idealisme, dan anarkis. Di panggung yang lain gwe adalah seorang pendiam yang selalu berusaha mengikuti peraturan yang ada. Di panggung lain gwe adalah orang yang perenung, penuh pemikiran, kritis, dan solutif. Di panggung lain gwe adalah orang yang romantis, puitis. Di panggung lain gwe adalah seorang pengecut belaka. Di panggung lain gwe adalah orang yang berusaha memimpin dan berusaha membuat cerita menjadi sesuatu yang paling wah yang pernah ditonton penonton.
Dan yang membuat gwe heran sendiri, semua itu gwe lakukan dengan jujur.
Tapi kejujuran itu jadi kacau pada saat panggung satu dan yang lain saling bertabrakan. Peran apa yang harus gwe mainkan di situ?
Mungkin gwe bisa disebut sebagai bukan orang yang menikmati bermain teater di berbagai tempat, tapi orang yang terjebak dalam sebuah pementasan teater dan sulit keluar karena skenario mengharuskan gwe ada di situ.
Kapan donk gwe jadi sutradaranya?
Jadi mungkin apa yang kalian lihat dari gwe sekarang mungkin akan berbeda dengan yang orang lain lihat. Gwe akui gak cuma gwe yang begini. Semua orang juga gini, tapi gwe cuma mau kasih warning bahwa belum tentu apa yang lo ingat sebagai Ignaz itu adalah siapa yang lo kenal sebagai Ignaz itu sendiri. Karena prinsip gwe yang selalu mengatakan bahwa gwe harus selalu bisa diterima di panggung mana pun.
Gwe buka sedikit.
Gwe harus bisa diterima di lingkungan keluarga, lingkungan rumah, tementemen SMP, tementemen Gonz, tementemen kampus, tementemen Teater UI, tementemen forum di internet, dan tementemen lain.
Gwe adalah orang yang tidak suka ada kebencian terjadi antara gwe dan orang lain.
Begitu pun kebencian antar orang lain.
Gwe akan sangat menderita pada saat teman gwe punya konflik dengan teman gwe yang lain.
Walaupun mungkin gwe gak ada urusan apaapa dengan perseteruan mereka, gwe akan merasa gak enak berada di kedua kubu. Seperti barubaru ini terjadi sebuah ketegangan di antara kedua teman gwe yang membuat gwe jadi susah berhubungan dengan keduanya. Ini contoh distorsi panggung yang selalu gwe alami.
Tapi lama kelamaan gwe mulai meninggalkan peranperan yang gwe rasa terlalu berat untuk gwe jalani. Gwe mulai merasa jenuh dengan peran itu, sehingga untuk panggung itu gwe tidak lagi memerankan peran yang sama. Awalnya penonton memang kaget, namun gwe rasa penonton sudah mulai bisa menerima itu.
Tapi dua yang sama sekali belum pernah gwe rasakan di setiap panggung, yaitu tepuk tangan penonton dan tawatangislega bersama para kru di backstage setelah pementasan selesai. Karena gwe gak yakin siapasiapa aja kru backstage yang ada di sana yang mendukung pentas gwe.
Astaga capekcapek baca blognya Ignaz tapi gak dapet apaapa, cuma dapet pelajaran teater itu pun sok tahu gitu deh. Kasian de gwe, adu bo cape de. Yah, dasar seorang introvert yang gak bisa keluar dari ke-intovert-annya!
Saat ini apa yang membuat gwe punya energi untuk tetap tersenyum adalah karena gwe masih percaya bahwa ada kru backstage yang selalu mendukung peran gwe baik dari setting, lighting, sound, make up, dan wardrobe. Dan kepercayaan lain bahwa karena gwe berada dalam sebuah pementasan berskenario, maka semua pemain yang ada di sekitar gwe pasti akan menciptakan sebuah cerita yang paling menyenangkan untuk penonton, sehingga imbasnya pun menyenangkan ke kami para pemain. Hyuuk...!
***
Gwe lagi agak kesal karena ada testimonial dari seseorang, yang pengen gwe jadiin bahan tulisan, HILANG.
Satu lagi yang bikin gwe kesal. Gwe nulis blog itu dari 3 SMP. Tapi blog gwe sejak jaman kelas 1-2 SMA ilang garagara gwe taruh itu di sebuah forum yang sekarang dah hilang. Tai juga sih. Emang isinya gak penting, tapi gwe pengen liati lagi ke belakang, gimana gwe berkembang sampai akhirnya menjadi seperti sekarang. Bagaimana perkembangan pemikiran gwe sebenernya? Gwe kalo ngeliat blog gwe jaman 3 SMP itu kocak abis. Sentimentil banget deh, benerbener masamasa di mana gwe sangat perasa. Semua aja gwe masukin ke hati, tanpa lewat rasio. Jadi bawaannya sensi, sentimentil, bete, seneng, pokoknya moodmood-an.
Masa lalu kita lewati untuk kita tertawakan. Hingga akhirnya bisa kita banggakan.
Tuesday, September 26, 2006
Hari Sia-sia
Kalian kan tau ada bazaar buku Gramedia di Bentara Budaya Palmerah, cuci gudang gitu deh. 10 RIBU DAPET 5 JEK!! Gimana mata gwe gak ngecling2 berbinar2 kayak ksatria baja hitam baru aja berubah??!!
Maka dengan penuh pengharapan, setelah kuliah Cerita Prosa Rakyat, gwe langsung cabut ke Palmerah.
Gobloknya gwe nyasar hampir sejam. Gara-garanya ya, di perempatan Gatot Subroto mestinya gwe belok kiri dari arah Buncit, tapi gwe bablas, kelewatan! Kebiasaan mau ke Menteng soalnya! Bingung nyari puteran, apalagi di Kuningan lagi dibangun busway, gwe belok kiri di Casablanca. Keluarlah gwe di Sudirman, berharap di Semanggi gwe bisa melanjutkan perjalanan gwe lewat Jln. Gatot Subroto. Ternyata gak bisa, gak ada jalan menuju ke arah sana klo naik motor. Bablas lagi sampe di deket Blok M.
Akhirnya gwe memutuskan untuk lewat arteri Pondok Indah aja. Gwe mengikuti marka yang mengatakan arah ke Kebayoran Lama. Dan ternyata emang sampe di Kebayoran Lama, tapi itu PASARNYA!! Gila macet... panas... emosi...
Keluar dari situ sampailah gwe di jalan yang benar, SIMPRUG! Lurus terus menuju atas, ke arah Slipi, lalu ketemu macet dikit di sebelah rel kereta yang ternyata itu macet karena mau ke Bentara Budaya semua.
Setelah sampe di Bentara Budaya, gwe dan antrian manusia lainnya masih belum bisa masuk karena di dalem penuhnya kayak bubur ketan item, soalnya item2 semua. Gwe dengan antusiasme yang sama dengan pengunjung lainnya mengantri dengan tenang. Tapi begitu pagar dibuka, desak-desakan mulai terasa kayak moshing di pensi2. Salahnya gwe adalah gwe melipat tangan di depan dada, jadinya gak bisa jaga keseimbangan dengan baik. Tapi yang gwe inget ada satu cowok (yang gak gwe kuatirkan karena badannya berisi) kejepit antar gwe dan ujung pagar yang notabene itu kan tajem. Maap ya bang, saya didorong. Tapi berkat bantalan orang itu gwe gak kena ujung pagar dan gwe bisa masuk dengan selamat tanpa harus terinjak2.
Mulailah gwe melihat meja pertama!!
Meja kedua!
Meja ketiga.
Keempat...
Ke... lima...
Kok... komik semua?
Langsung terngiang2 di pikiran kata2 bokap gwe tadi pagi, ngomentarin bazaar buku ini,
"Apaan tuh 10 ribu dapet 5? Majalah Bobo?"
Bukan, ayah... tapi Sailormoon.... Donal Bebek... Serial Cantik... Novel2 drama romantis....
Gwe langsung pengen teriak ke panitianya tau gak sih!
"NGIKLANIN BAZAAR YANG SPESIFIK DONK!!!! KUYA!!!"
Kandas sudah hasrat gwe. Gwe ngerasa gak punya muka di depan semua orang yang udah gwe teriakin bahwa ada bazaar gila. Tapi emang gila sih. Langsung sms Xaxa yang tadinya udah nitip 20ribu buat beli buku2 antrop dan kekerasan, ngeluh. Langsung sms Pwedeh, ngeluh.. Langsung sms Aci, ga usah dateng... Langsung sms Jawa, bete... Langsung sms bokap nyokap, gondok...
Gila gwe ngerasa dah kayak orang paling kecil yang tadinya berusaha menyombongkan diri karena berhasil mendapatkan buku termurah di dunia, tapi sekarang jadi merasa, Udah injek aja gwe dah!! gak ada muka gwe buat gwe kasih liat ke lo!! Anjrot!
Kalo kayak komik2 Jepang, gwe bakal ke sudut paling gelap trus main-mainin ranting digesek2an ke tanah, pundung mojok sendirian. Eladalah, meni pundung sia...
Mana abis itu gwe di-sms Nata suruh dateng ke kampus buat rapat Kuksa Fisip Cup. Wah, gak bisa gwe... Laper dan lemes gwe... Kecewa pula, Lagian jauh banget jek! Biarpun gwe disuruh dateng sama Om Farhan yang bakal ngasih gwe 2 milliar juga mungkin gwe gak akan dateng. Lain ceritanya kalo tiba2 Om Farhan manggil gwe buat masuk ke Taksi Selebriti. Gratis sampe kampus, dapet duit pula. Dan gak akan capek pula. Hihihi.
Wis!
Setelah itu gwe putuskan untuk ke TIM saja! Gwe mau nyari buku di tempat yang tenang.
Sampe sana, emang kebetulan lagi tenang dan sepi. Tapi gwe gak dapet buku bagus euy. Mana laper berat lagi, tadi tuh klo gwe gak mesen teh botol buat ngedinginin aktivitas lambung yang udah menggila, mungkin gwe bakal jadi orang asing antah berantah yang teronggok gitu aja di kampus orang. Diliatin tapi gak diapa2in. Geuleuh kali ngeliat gwe berbusa kelaperan. Mentang2 ikut2an puasa, padahal gak sahur. Salah sendiri sih...
Perjalanan pulang ke rumah tuh rasanya udah kayak seabad.. Perut melilit, panas, macet, jalanan rusak, lengkap sudah penderitaan...
Geus!!
Sampe rumah, itu rice cooker penuh isinya bener2 gwe ambil setengahnya. Lauknya capcay ama ikan, dammit cuma ada itu sih! Begitu selesai makan, mulai serangan kantuk yang dahsyat kembali melanda. Tidurlah gwe dengan tenang di depan TV. Dan beginilah gwe sekarang bangun, dan sudah lapar lagi.
Maka dengan penuh pengharapan, setelah kuliah Cerita Prosa Rakyat, gwe langsung cabut ke Palmerah.
Gobloknya gwe nyasar hampir sejam. Gara-garanya ya, di perempatan Gatot Subroto mestinya gwe belok kiri dari arah Buncit, tapi gwe bablas, kelewatan! Kebiasaan mau ke Menteng soalnya! Bingung nyari puteran, apalagi di Kuningan lagi dibangun busway, gwe belok kiri di Casablanca. Keluarlah gwe di Sudirman, berharap di Semanggi gwe bisa melanjutkan perjalanan gwe lewat Jln. Gatot Subroto. Ternyata gak bisa, gak ada jalan menuju ke arah sana klo naik motor. Bablas lagi sampe di deket Blok M.
Akhirnya gwe memutuskan untuk lewat arteri Pondok Indah aja. Gwe mengikuti marka yang mengatakan arah ke Kebayoran Lama. Dan ternyata emang sampe di Kebayoran Lama, tapi itu PASARNYA!! Gila macet... panas... emosi...
Keluar dari situ sampailah gwe di jalan yang benar, SIMPRUG! Lurus terus menuju atas, ke arah Slipi, lalu ketemu macet dikit di sebelah rel kereta yang ternyata itu macet karena mau ke Bentara Budaya semua.
Setelah sampe di Bentara Budaya, gwe dan antrian manusia lainnya masih belum bisa masuk karena di dalem penuhnya kayak bubur ketan item, soalnya item2 semua. Gwe dengan antusiasme yang sama dengan pengunjung lainnya mengantri dengan tenang. Tapi begitu pagar dibuka, desak-desakan mulai terasa kayak moshing di pensi2. Salahnya gwe adalah gwe melipat tangan di depan dada, jadinya gak bisa jaga keseimbangan dengan baik. Tapi yang gwe inget ada satu cowok (yang gak gwe kuatirkan karena badannya berisi) kejepit antar gwe dan ujung pagar yang notabene itu kan tajem. Maap ya bang, saya didorong. Tapi berkat bantalan orang itu gwe gak kena ujung pagar dan gwe bisa masuk dengan selamat tanpa harus terinjak2.
Mulailah gwe melihat meja pertama!!
Meja kedua!
Meja ketiga.
Keempat...
Ke... lima...
Kok... komik semua?
Langsung terngiang2 di pikiran kata2 bokap gwe tadi pagi, ngomentarin bazaar buku ini,
"Apaan tuh 10 ribu dapet 5? Majalah Bobo?"
Bukan, ayah... tapi Sailormoon.... Donal Bebek... Serial Cantik... Novel2 drama romantis....
Gwe langsung pengen teriak ke panitianya tau gak sih!
"NGIKLANIN BAZAAR YANG SPESIFIK DONK!!!! KUYA!!!"
Kandas sudah hasrat gwe. Gwe ngerasa gak punya muka di depan semua orang yang udah gwe teriakin bahwa ada bazaar gila. Tapi emang gila sih. Langsung sms Xaxa yang tadinya udah nitip 20ribu buat beli buku2 antrop dan kekerasan, ngeluh. Langsung sms Pwedeh, ngeluh.. Langsung sms Aci, ga usah dateng... Langsung sms Jawa, bete... Langsung sms bokap nyokap, gondok...
Gila gwe ngerasa dah kayak orang paling kecil yang tadinya berusaha menyombongkan diri karena berhasil mendapatkan buku termurah di dunia, tapi sekarang jadi merasa, Udah injek aja gwe dah!! gak ada muka gwe buat gwe kasih liat ke lo!! Anjrot!
Kalo kayak komik2 Jepang, gwe bakal ke sudut paling gelap trus main-mainin ranting digesek2an ke tanah, pundung mojok sendirian. Eladalah, meni pundung sia...
Mana abis itu gwe di-sms Nata suruh dateng ke kampus buat rapat Kuksa Fisip Cup. Wah, gak bisa gwe... Laper dan lemes gwe... Kecewa pula, Lagian jauh banget jek! Biarpun gwe disuruh dateng sama Om Farhan yang bakal ngasih gwe 2 milliar juga mungkin gwe gak akan dateng. Lain ceritanya kalo tiba2 Om Farhan manggil gwe buat masuk ke Taksi Selebriti. Gratis sampe kampus, dapet duit pula. Dan gak akan capek pula. Hihihi.
Wis!
Setelah itu gwe putuskan untuk ke TIM saja! Gwe mau nyari buku di tempat yang tenang.
Sampe sana, emang kebetulan lagi tenang dan sepi. Tapi gwe gak dapet buku bagus euy. Mana laper berat lagi, tadi tuh klo gwe gak mesen teh botol buat ngedinginin aktivitas lambung yang udah menggila, mungkin gwe bakal jadi orang asing antah berantah yang teronggok gitu aja di kampus orang. Diliatin tapi gak diapa2in. Geuleuh kali ngeliat gwe berbusa kelaperan. Mentang2 ikut2an puasa, padahal gak sahur. Salah sendiri sih...
Perjalanan pulang ke rumah tuh rasanya udah kayak seabad.. Perut melilit, panas, macet, jalanan rusak, lengkap sudah penderitaan...
Geus!!
Sampe rumah, itu rice cooker penuh isinya bener2 gwe ambil setengahnya. Lauknya capcay ama ikan, dammit cuma ada itu sih! Begitu selesai makan, mulai serangan kantuk yang dahsyat kembali melanda. Tidurlah gwe dengan tenang di depan TV. Dan beginilah gwe sekarang bangun, dan sudah lapar lagi.
Tuesday, September 19, 2006
Siklus
Hahaha, mengutip kepercayaan Anchiella, hidup itu siklus. Semua manusia yang ada sejak awal penciptaan akan mengalami lahir, berkembang, mencari jati diri, senang, sedih, sakit hati, puas, tawa dan tangis, menjadi dewasa, kaya atau miskin, di atas dan di bawah, dan lain-lain yang kemudian akan mati. Namun siklus itu tak pernah terputus karena selalu diteruskan oleh keturunan-keturunan yang baru, baik keturunan kita, maupun yang lain.
Dan klo Anchiella percaya ini, gwe lebih menganggap bahwa ini fakta. Kenyataannya memang demikian. Empiris, terlihat, bisa diindera. Tidak seperti keberadaan metafisik atau tuhan yang secara empiris tidak bisa dibuktikan. Ya, itu sudah merupakan wilayah rasa.
Maka bila orang berlarut-larut dalam sakit hatinya, siklus itu terhenti sejenak hingga ia bisa overcome sakit hatinya. Dan itu adalah proses pendewasaan yang juga ada dalam siklus.
We're just a program. We're just a thought of our mind. We live our thought. We live in The Matrix and yet we don't know it. What is real and what is fake? Hehe, Budhaism.
***
Betapapun rasanya gwe makin jauh dari agama karena kajian gwe, namun dalam hati gwe ini tetap masih ada sisa-sisa keyakinan yang sejak kecil telah tertanam, dan entah telah berbuah atau telah memunculkan tunas baru atau belum. Kadang dalam kesedihan yang yang terdalam, keheningan batin yang benar-benar hening, gwe selalu teringat lagi akan kisah-kisah itu. Gwe seperti tersadar bahwa gwe gak sendiri, namun ada yang memeluk mendekap gwe dengan hangat dalam kesendirian itu. Dan gwe seperti yakin bahwa itu adalah dia, Dia. Haha, jarang2 ya gwe menyebutnya dengan kapital. Hati nuraniku masih berbicara, kalau kata teologi. Padahal apa hati nurani itu?
Hati nurani, alam bawah sadar. Apakah itu endapan2 yang kita terima sejak kita kecil atau endapan2 yang kita terima sebelum kita muncul dari peleburan sel sperma dan sel telur? Yang pasti adalah hati nuranilah yang selalu menjadi patokan kita dalam melakukan sesuatu dalam batasan2 moral. Sebenernya gak yakin juga klo itu pasti, wong itu penjelasan dari teologi juga. =P
Haha, sekali-kali pengen religius sedikit ah di blog ini =]
Jesus, be sure that here I am, still eager to spread Your love all over the world.
Maaf, jarang menyembah-Mu. Tapi memangnya engkau butuh disembah? Bukankah yang penting adalah cinta kasih antara sesama manusia? Ya kan ya kan? Ajaranmu memang luar biasa.
Berikut adalah perikop favorit gwe, yang sayangnya tidak ada di 4 Injil resmi.
"I am the light that shines over all things. I am everywhere. From me all came forth, and to me all return.
Split a piece of wood, and I am there. Lift a stone, and you will find me there." Thomas v.77
Dan klo Anchiella percaya ini, gwe lebih menganggap bahwa ini fakta. Kenyataannya memang demikian. Empiris, terlihat, bisa diindera. Tidak seperti keberadaan metafisik atau tuhan yang secara empiris tidak bisa dibuktikan. Ya, itu sudah merupakan wilayah rasa.
Maka bila orang berlarut-larut dalam sakit hatinya, siklus itu terhenti sejenak hingga ia bisa overcome sakit hatinya. Dan itu adalah proses pendewasaan yang juga ada dalam siklus.
We're just a program. We're just a thought of our mind. We live our thought. We live in The Matrix and yet we don't know it. What is real and what is fake? Hehe, Budhaism.
***
Betapapun rasanya gwe makin jauh dari agama karena kajian gwe, namun dalam hati gwe ini tetap masih ada sisa-sisa keyakinan yang sejak kecil telah tertanam, dan entah telah berbuah atau telah memunculkan tunas baru atau belum. Kadang dalam kesedihan yang yang terdalam, keheningan batin yang benar-benar hening, gwe selalu teringat lagi akan kisah-kisah itu. Gwe seperti tersadar bahwa gwe gak sendiri, namun ada yang memeluk mendekap gwe dengan hangat dalam kesendirian itu. Dan gwe seperti yakin bahwa itu adalah dia, Dia. Haha, jarang2 ya gwe menyebutnya dengan kapital. Hati nuraniku masih berbicara, kalau kata teologi. Padahal apa hati nurani itu?
Hati nurani, alam bawah sadar. Apakah itu endapan2 yang kita terima sejak kita kecil atau endapan2 yang kita terima sebelum kita muncul dari peleburan sel sperma dan sel telur? Yang pasti adalah hati nuranilah yang selalu menjadi patokan kita dalam melakukan sesuatu dalam batasan2 moral. Sebenernya gak yakin juga klo itu pasti, wong itu penjelasan dari teologi juga. =P
Haha, sekali-kali pengen religius sedikit ah di blog ini =]
Jesus, be sure that here I am, still eager to spread Your love all over the world.
Maaf, jarang menyembah-Mu. Tapi memangnya engkau butuh disembah? Bukankah yang penting adalah cinta kasih antara sesama manusia? Ya kan ya kan? Ajaranmu memang luar biasa.
Berikut adalah perikop favorit gwe, yang sayangnya tidak ada di 4 Injil resmi.
"I am the light that shines over all things. I am everywhere. From me all came forth, and to me all return.
Split a piece of wood, and I am there. Lift a stone, and you will find me there." Thomas v.77
Gwe Dan Pikiran Gwe
Akhir2 ini (atau selalu sih?) gwe gak pernah bisa nginget kejadian lucu, aneh, kocak, gila, jijik, gak penting, ra nggenah, gak normal, untuk gwe tulis di blog, atau hanya sekedar untuk dijadikan bahan lucu2an di masa depan. Ingetnya tuh yang serius2 doank, seperti bahan2 kuliah. Ntah ini gawat atau bagus. Masalahnya walau gwe inget seluruh materi kuliah, tadi gwe gak ikut kuis Antrop Psiko gara2 (lagi2) telat. Selain itu emang gwe sekarang kehobian (mirip kebiasaan) bangun kesiangan. Kebiasaan itu kan gak sadar, sedangkan hobi itu kan dilakukan karena seneng atau iseng, heheh. Implikasinya gak cuma ke blog, namun juga dalam pergaulan sehari2. Gwe bawaannya jadi serius mulu. Nanggepin semua masalah jadi harus rasional menuju empiris wannabe geneh. Dooohhh..!!
Tapi ada yang berkesan buat gwe, yaitu pada saat gwe lagi baca buku tentang Teguh Karya dan Teater Populer sendirian di depan jurusan. Pada saat itu gedung B lagi rame sama anak2 sos, ketawa2, becanda, meni rusuh deh. Tapi karena wajar, gwe gak terganggu bacanya, dan tetep anteng duduk nyandar di pilar itu. Sampe akhirnya ada dialog.
"Eh, dapet salam dari Icha!"
"Icha siapa jo?"
"I CHAPE DE~~!"
Setelah denger itu, sumpah gwe nyusruk, jatoh lemes, meni gubrak pisan deh! Eladalah! Berhubungan gwe sendirian kaga ada temen, ya gwe jaim untuk tidak ketawa. Tapi nahan2 senyum jijik gitu. Langsung deh gwe sms aja si Sasa praktekin apa dia bakal ngbubrak juga. Dan ternyata bener.
Di Gonz, mraktekin juga itu ke Harley, dan hasilnya dia, Jawa, dan Indah'19 ngakak2 juga. Emang maut juga tuh guyonan.
***
Tadi setelah Antrop Psiko, pak James yang umurnya sudah 72 tahun itu keluar kelas duluan, ya wajar lah dosen duluan yg keluar. Setelah itu dia turun tangga dari lantai 2 itu di gedung E. Masalahnya adalah pak James ini kakinya sudah susah ditekuk. Lututnya tuh kaku berat, jalannya juga mesti pake tongkat. Turun tangga ya susah donk. Turun 1 step aja tuh butuh 10 detik aja gitu lho, cape de~ Padahal anak tangga gak kurang dari 10 step. Padahal anak2 dah di belakang dia pengen turun juga. Sofy yang di depan gwe nanya, "Eh, gwe ngedahuluin nyalip dia sopan gak ya?" Pasalnya anak2 sekelas itu dah ngantri di tangga, turunnya lama banget nungguin pak James sampe bawah. Gwe cuma ketawa aja ngeliat antrian itu. Soalnya sekalian ngebayangin film Mr.Bean yang susah turun tangga darurat gara2 sepuh2 osteoporosis turunnya lama, ngantri juga.
Setelah pak James sampe bawah, tapi belum sempet keluar gedung, Sofy gak sengaja nabrak dia gara2 gak liat karena dia lagi makan coco crunch. Pak James hampir jatuh donk. Langsung mukanya serius keliatan marah, "Kamu mau mencelakai saya ya?" "Gak pak!1 Gak pak! Gak sengaja!" jawab Sofy. Semuanya nahan ketawa.
***
Aku menjelang Lustrum IV Gonzaga dengan mengajukan diri membantu Teater Gonzaga di bidang setting. Mereka akan mementaskan naskah (yang... kok... sori nih... dangkal?) buatan Frater Harry (ntah siapa ini) berjudul Bayang-bayang Retak. Ceritanya standar, munculnya kejahatan dianalogikan sebagai bayang2 cermin yang merasuk manusia. Tapi konfliknya... apa? Kemudian per adegan itu... what the hell meaning of the maksud? Banyak penggambaran bayang2 yang merasuk manusia, tapi sepenggal2 dan itu terlalu singkat sehingga dihilangkan pun mungkin bisa. Kasarnya klo gwe baca itu naskah cuma butuh bagian depan dan belakang untuk dipentaskan.
Duh... bukannya menjatuhkan, tapi... gwe gak ridho aja Teater Gonz mentasin ginian. Tapi gimana donk? Ini proyek yayasan sekaligus 200 tahun KAJ (ini nih yg bikin naskahnya sok menciptakan habitus baru ini) Ini dangkal jek. Gwe gak tau pangsa pasar mana yg mau dibidik sama pementasan ini. Untuk anak muda gwe pikir akan banyak "cape de~" di mana2 karena pemahamannya berat (maksudnya emang dari segi penyampaian sulit dimengerti) dan gak menghibur.
Buat gwe ini cocoknya buat drama di saat Homili tengah misa.
Tapi secara artistik ini bisa luar biasa bagus sekali. Roh kudus terikat rantai2 di hidrolik, terkurung kurungan ayam (?). Cermin di mana2, cermin membagi 2 panggung menjadi 2 dunia yang berbeda. Settingnya wah sekali. Tapi sayang sekali, kualitas naskahnya... Memang gede2an, tapi harusnya kualitas pun sebanding donk. Udah pangsa pasar cuma umat Katolik, sulit untuk jadi konsumsi anak muda, buat yang tua juga terlalu dangkal, makanya gwe mikir ini cocok buat homili.
Tapi ya sudahlah, toh gwe bakal bisa belajar banyak dari pementasan ini, terutama setting. Karena setting akan ditata oleh penata setting yang sudah profesional, yaitu Mulyadi (bukan beruang) yang sebelumnya pernah garap setting Jesus Christ Superstar, dan dibantu Mas Joko yang tadinya bimbing GonzArt. Tentunya GonzArt pasti akan ikut bantu setting ini.
Dengan kekurangan apapun, namun apabila tuhan berkenan jadikan ini sebuah himbauan umat membina habitus baru ya, buatlah ini sukses. Semua di tanganmu, bang. Ane sih nrimo aja, ya gak bang Je? Ad Maiorem Dei Gloriam.
***
Cerita lain, nanti saja, aku sakit perut dan ngantuk...
Berikutnya cerita tentang perjuangan Teater UI yang luar biasa rock and roll!
Tapi ada yang berkesan buat gwe, yaitu pada saat gwe lagi baca buku tentang Teguh Karya dan Teater Populer sendirian di depan jurusan. Pada saat itu gedung B lagi rame sama anak2 sos, ketawa2, becanda, meni rusuh deh. Tapi karena wajar, gwe gak terganggu bacanya, dan tetep anteng duduk nyandar di pilar itu. Sampe akhirnya ada dialog.
"Eh, dapet salam dari Icha!"
"Icha siapa jo?"
"I CHAPE DE~~!"
Setelah denger itu, sumpah gwe nyusruk, jatoh lemes, meni gubrak pisan deh! Eladalah! Berhubungan gwe sendirian kaga ada temen, ya gwe jaim untuk tidak ketawa. Tapi nahan2 senyum jijik gitu. Langsung deh gwe sms aja si Sasa praktekin apa dia bakal ngbubrak juga. Dan ternyata bener.
Di Gonz, mraktekin juga itu ke Harley, dan hasilnya dia, Jawa, dan Indah'19 ngakak2 juga. Emang maut juga tuh guyonan.
***
Tadi setelah Antrop Psiko, pak James yang umurnya sudah 72 tahun itu keluar kelas duluan, ya wajar lah dosen duluan yg keluar. Setelah itu dia turun tangga dari lantai 2 itu di gedung E. Masalahnya adalah pak James ini kakinya sudah susah ditekuk. Lututnya tuh kaku berat, jalannya juga mesti pake tongkat. Turun tangga ya susah donk. Turun 1 step aja tuh butuh 10 detik aja gitu lho, cape de~ Padahal anak tangga gak kurang dari 10 step. Padahal anak2 dah di belakang dia pengen turun juga. Sofy yang di depan gwe nanya, "Eh, gwe ngedahuluin nyalip dia sopan gak ya?" Pasalnya anak2 sekelas itu dah ngantri di tangga, turunnya lama banget nungguin pak James sampe bawah. Gwe cuma ketawa aja ngeliat antrian itu. Soalnya sekalian ngebayangin film Mr.Bean yang susah turun tangga darurat gara2 sepuh2 osteoporosis turunnya lama, ngantri juga.
Setelah pak James sampe bawah, tapi belum sempet keluar gedung, Sofy gak sengaja nabrak dia gara2 gak liat karena dia lagi makan coco crunch. Pak James hampir jatuh donk. Langsung mukanya serius keliatan marah, "Kamu mau mencelakai saya ya?" "Gak pak!1 Gak pak! Gak sengaja!" jawab Sofy. Semuanya nahan ketawa.
***
Aku menjelang Lustrum IV Gonzaga dengan mengajukan diri membantu Teater Gonzaga di bidang setting. Mereka akan mementaskan naskah (yang... kok... sori nih... dangkal?) buatan Frater Harry (ntah siapa ini) berjudul Bayang-bayang Retak. Ceritanya standar, munculnya kejahatan dianalogikan sebagai bayang2 cermin yang merasuk manusia. Tapi konfliknya... apa? Kemudian per adegan itu... what the hell meaning of the maksud? Banyak penggambaran bayang2 yang merasuk manusia, tapi sepenggal2 dan itu terlalu singkat sehingga dihilangkan pun mungkin bisa. Kasarnya klo gwe baca itu naskah cuma butuh bagian depan dan belakang untuk dipentaskan.
Duh... bukannya menjatuhkan, tapi... gwe gak ridho aja Teater Gonz mentasin ginian. Tapi gimana donk? Ini proyek yayasan sekaligus 200 tahun KAJ (ini nih yg bikin naskahnya sok menciptakan habitus baru ini) Ini dangkal jek. Gwe gak tau pangsa pasar mana yg mau dibidik sama pementasan ini. Untuk anak muda gwe pikir akan banyak "cape de~" di mana2 karena pemahamannya berat (maksudnya emang dari segi penyampaian sulit dimengerti) dan gak menghibur.
Buat gwe ini cocoknya buat drama di saat Homili tengah misa.
Tapi secara artistik ini bisa luar biasa bagus sekali. Roh kudus terikat rantai2 di hidrolik, terkurung kurungan ayam (?). Cermin di mana2, cermin membagi 2 panggung menjadi 2 dunia yang berbeda. Settingnya wah sekali. Tapi sayang sekali, kualitas naskahnya... Memang gede2an, tapi harusnya kualitas pun sebanding donk. Udah pangsa pasar cuma umat Katolik, sulit untuk jadi konsumsi anak muda, buat yang tua juga terlalu dangkal, makanya gwe mikir ini cocok buat homili.
Tapi ya sudahlah, toh gwe bakal bisa belajar banyak dari pementasan ini, terutama setting. Karena setting akan ditata oleh penata setting yang sudah profesional, yaitu Mulyadi (bukan beruang) yang sebelumnya pernah garap setting Jesus Christ Superstar, dan dibantu Mas Joko yang tadinya bimbing GonzArt. Tentunya GonzArt pasti akan ikut bantu setting ini.
Dengan kekurangan apapun, namun apabila tuhan berkenan jadikan ini sebuah himbauan umat membina habitus baru ya, buatlah ini sukses. Semua di tanganmu, bang. Ane sih nrimo aja, ya gak bang Je? Ad Maiorem Dei Gloriam.
***
Cerita lain, nanti saja, aku sakit perut dan ngantuk...
Berikutnya cerita tentang perjuangan Teater UI yang luar biasa rock and roll!
Wednesday, September 06, 2006
Layu Di Tengah Hutan
Tadi pagi gwe liat beberapa pohon kecil yang gwe perkirakan buat penghijauan di tepi hutan UI depan FT. Pohon2 kecil itu dijajarkan sepanjang tepi hutan setiap jarak yang seragam, bersandar di semacam pagar bambu agar pohon kecil itu tidak jatuh akibat akar yang belum kuat. Hal itu mengingatkan gwe pada sebuah artikel yang ada di tabloid Suara Mahasiswa yang mengatakan bahwa pohon-pohon di UI kebanyakan pohon berumur pendek, sehingga selang beberapa waktu harus ditebang dan ditanam yang baru. Mungkin itu salah satu pengejawantahannya.
Yang aneh adalah semua pohon kecil-yang pagi ini merasa hangat diselimuti sinar mentari dan bersandar santai pada pagarnya-itu layu. Semua pohon kecil itu lagu. Daun2nya menguning, bahkan sebagian besar telah berwarna coklat dan sepanjang pengamatan gwe yang awam botani ini, pohon2 itu pasti bakal mati semua.
Tapi entahlah, apakah itu langkah awal pohon kecil itu untuk menjadi besar atau ada hal lain? Semoga penanaman pohon2 kecil itu tidak sia2.
Suburlah hutan UI.
Entahlah, bagaimana cara warga sekitar agar tidak membuang sampah domestiknya ke hutan UI, karena itu jelek sekali. berkali-kali pembakaran sampah dilakukan di situ, dan pasti itu berpengaruh terhadap kesehatan pepohonan di sekitarnya. Lagipula karena tempat itu adalah tempat sampah warga, mereka menjadi merasa punya hak dan tak merasa salah apa2 membuang sampah di situ.
Gwe yakin UI sudah melihat dan memandang hal ini, namun gwe gak yakin apa yang akan mereka lakukan untuk mengatasi hal ini. Bukan sekedar cuma himbauan yang diperlukan, tapi lebih dari itu. Menumbuhkembangkan kesadaran. Hal tersulit.
***
Jadi kepikiran, bagaimana nasib hewan-hewan yang ada di Taman Safari ya? Apakah mereka merasakan polusi udara yang ditimbulkan dari asap-asap kendaraan yang lewat? Kalau ya, apa dampaknya bagi mereka? Bukankah itu berbahaya bagi kesehatan para hewan terutama pada paru-paru dan saraf mereka? Bisa gak sih mereka asma? Atau bronkitis? Atau kekurangan oksigen? Apakah polusi berpengaruh pada somatik mereka? Bagaimana dengan keturunannya? Terjadi mutasi gen-kah?
Adakah yang pernah simpati dan meneliti hal ini? Bagaimana para zoolog?
***
Ada anak TK yang diajak berdoa bersama dengan lantang, namun ia tidak berdoa dengan suara keras mengakibatkan seorang guru mengritiknya. Sii anak bersikeras sudah berdoa, mesti tidak dengan suara lantang, namun si guru merasa anak itu belum berdoa karena ia tidak dengar suara doa si anak TK. Anak TK itu pun menjawab, "Emangnya tuhan budeg?" dan si guru terkejut.
Seorang berkomentar, "Bagaimana cara mengajarkan anak TK berdoa dengan baik?"
Komentar gwe: apa hubungannya suara lantang, sudah berdoa, dan ngajar anak berdoa? Apa doa yang baik harus lantang? Apa doa yang baik harus didengar gurunya? Emangnya gurunya itu tuhan? Emangnya tuhan budeg?
***
Agama atau religi tercipta dari rasa takut manusia akan hal-hal yang tidak duniawi. (menurut Malinowsky mirip2 sama Geertz gitulah)
Tapi sekarang agama malah justru membuat manusia takut. Entah apa interpretasinya, entah bagaimana sosialisasi dan tradisinya sehingga menjadi seperti sekarang.
Siapa kita menyatakan orang lain salah atau benar?
Pembenaran itu dari mana?
Kontekstual.
Orang miskin-yang makan aja susah-jarang sholat ato ke gereja ato sembahyang. Secara doktrin agama, mereka ini dosa karena gak pernah berhubungan dengan tuhan. Tapi menurut mereka, makan aja susah, gimana mau sembahyang? Berarti miskin = kafir? (pengalaman pak tony-dosen antropologi ui)
Kita menyembah tuhan yang sama dari awal penciptaan hingga awal penciptaan baru hanya saja dengan berbagai cara. Padahal emangnya tuhan perlu disembah? Disembah ato nggak, dia tetep dia. Yang untung kan akhirnya manusia juga. Kalo semua manusia beriman dan saleh, kan hidup bisa rukun dengan sesama manusia lain. Hal itu bisa terjadi karena ada tuhan di pikiran mereka yang membatasi perilaku dan kepribadian agar sesuai moral yang ditanamkan. Memayu hayuning bawono, misalnya, kejawen.
Nah kapan kesadaran itu terjadi di sini? Masa hanya orang2 social science yang sadar?
***
Jadi ngomongin agama, padahal masih banyak orang2 yang belum bisa menerima eksistensi agama sebagai kajian empiris. Mereka menganggap agama turun dari langit. Ya, kepercayaan kan gak bisa dibantah. Ada magic word di situ yaitu kata "pokoknya". Sudah tidak bisa diganggu gugat lagi.
***
Duh gwe keilangan gunting kuku gwe, yang biasa gwe gantung sebagai kalung bersama kunci motor... padahal gunting kuku yang bercampur fungsi dengan pembuka botol itu keren! Ada lambang Gonz-nya hehe. Bego... malah cengengesan.
***
Oh iya, tadi pagi setang kiri gwe nabrak siku kiri ibu2 yang lagi jalan di sebuah gang sempit di deket srengseng... Gwe gak salah sih, karena ibu2 itu jalannya tiba2 melenggok ke kanan. Tapi tetep, sebenernya gwe bisa menghindar. Bengong sih.
Gwe gak menghentikan motor untuk bilang maaf, hanya mengacungkan tangan di depan kepala saja sambil nunduk2, tapi motor tetep jalan. Agak merasa bersalah.. Tampangnya itu marah banget soalnya. Jadi agak takut lewat gang itu lagi.
Yang aneh adalah semua pohon kecil-yang pagi ini merasa hangat diselimuti sinar mentari dan bersandar santai pada pagarnya-itu layu. Semua pohon kecil itu lagu. Daun2nya menguning, bahkan sebagian besar telah berwarna coklat dan sepanjang pengamatan gwe yang awam botani ini, pohon2 itu pasti bakal mati semua.
Tapi entahlah, apakah itu langkah awal pohon kecil itu untuk menjadi besar atau ada hal lain? Semoga penanaman pohon2 kecil itu tidak sia2.
Suburlah hutan UI.
Entahlah, bagaimana cara warga sekitar agar tidak membuang sampah domestiknya ke hutan UI, karena itu jelek sekali. berkali-kali pembakaran sampah dilakukan di situ, dan pasti itu berpengaruh terhadap kesehatan pepohonan di sekitarnya. Lagipula karena tempat itu adalah tempat sampah warga, mereka menjadi merasa punya hak dan tak merasa salah apa2 membuang sampah di situ.
Gwe yakin UI sudah melihat dan memandang hal ini, namun gwe gak yakin apa yang akan mereka lakukan untuk mengatasi hal ini. Bukan sekedar cuma himbauan yang diperlukan, tapi lebih dari itu. Menumbuhkembangkan kesadaran. Hal tersulit.
***
Jadi kepikiran, bagaimana nasib hewan-hewan yang ada di Taman Safari ya? Apakah mereka merasakan polusi udara yang ditimbulkan dari asap-asap kendaraan yang lewat? Kalau ya, apa dampaknya bagi mereka? Bukankah itu berbahaya bagi kesehatan para hewan terutama pada paru-paru dan saraf mereka? Bisa gak sih mereka asma? Atau bronkitis? Atau kekurangan oksigen? Apakah polusi berpengaruh pada somatik mereka? Bagaimana dengan keturunannya? Terjadi mutasi gen-kah?
Adakah yang pernah simpati dan meneliti hal ini? Bagaimana para zoolog?
***
Ada anak TK yang diajak berdoa bersama dengan lantang, namun ia tidak berdoa dengan suara keras mengakibatkan seorang guru mengritiknya. Sii anak bersikeras sudah berdoa, mesti tidak dengan suara lantang, namun si guru merasa anak itu belum berdoa karena ia tidak dengar suara doa si anak TK. Anak TK itu pun menjawab, "Emangnya tuhan budeg?" dan si guru terkejut.
Seorang berkomentar, "Bagaimana cara mengajarkan anak TK berdoa dengan baik?"
Komentar gwe: apa hubungannya suara lantang, sudah berdoa, dan ngajar anak berdoa? Apa doa yang baik harus lantang? Apa doa yang baik harus didengar gurunya? Emangnya gurunya itu tuhan? Emangnya tuhan budeg?
***
Agama atau religi tercipta dari rasa takut manusia akan hal-hal yang tidak duniawi. (menurut Malinowsky mirip2 sama Geertz gitulah)
Tapi sekarang agama malah justru membuat manusia takut. Entah apa interpretasinya, entah bagaimana sosialisasi dan tradisinya sehingga menjadi seperti sekarang.
Siapa kita menyatakan orang lain salah atau benar?
Pembenaran itu dari mana?
Kontekstual.
Orang miskin-yang makan aja susah-jarang sholat ato ke gereja ato sembahyang. Secara doktrin agama, mereka ini dosa karena gak pernah berhubungan dengan tuhan. Tapi menurut mereka, makan aja susah, gimana mau sembahyang? Berarti miskin = kafir? (pengalaman pak tony-dosen antropologi ui)
Kita menyembah tuhan yang sama dari awal penciptaan hingga awal penciptaan baru hanya saja dengan berbagai cara. Padahal emangnya tuhan perlu disembah? Disembah ato nggak, dia tetep dia. Yang untung kan akhirnya manusia juga. Kalo semua manusia beriman dan saleh, kan hidup bisa rukun dengan sesama manusia lain. Hal itu bisa terjadi karena ada tuhan di pikiran mereka yang membatasi perilaku dan kepribadian agar sesuai moral yang ditanamkan. Memayu hayuning bawono, misalnya, kejawen.
Nah kapan kesadaran itu terjadi di sini? Masa hanya orang2 social science yang sadar?
***
Jadi ngomongin agama, padahal masih banyak orang2 yang belum bisa menerima eksistensi agama sebagai kajian empiris. Mereka menganggap agama turun dari langit. Ya, kepercayaan kan gak bisa dibantah. Ada magic word di situ yaitu kata "pokoknya". Sudah tidak bisa diganggu gugat lagi.
***
Duh gwe keilangan gunting kuku gwe, yang biasa gwe gantung sebagai kalung bersama kunci motor... padahal gunting kuku yang bercampur fungsi dengan pembuka botol itu keren! Ada lambang Gonz-nya hehe. Bego... malah cengengesan.
***
Oh iya, tadi pagi setang kiri gwe nabrak siku kiri ibu2 yang lagi jalan di sebuah gang sempit di deket srengseng... Gwe gak salah sih, karena ibu2 itu jalannya tiba2 melenggok ke kanan. Tapi tetep, sebenernya gwe bisa menghindar. Bengong sih.
Gwe gak menghentikan motor untuk bilang maaf, hanya mengacungkan tangan di depan kepala saja sambil nunduk2, tapi motor tetep jalan. Agak merasa bersalah.. Tampangnya itu marah banget soalnya. Jadi agak takut lewat gang itu lagi.
Thursday, August 31, 2006
Sedang Sakit (lagi)
Najis! Kenapa gwe jadi gini!
Apa gara2 mabok NewPort yang njijiki itu!??! Ajing!
Vodka campuran dgn konsentrat cuma 20 persen gitu doank aja bikin gini!
Rasanya bener2 kayak kratingdeng basi! (kayak pernah nyoba aja)
Gak layak diminum deh!
Akibatnya, gwe gak mabok tapi ENEG-nya masyaauloh... SAMPE SEKARANG
Jadi gwe baru aja ikutan touring photography-nya om gwe. Wah luar biasa, belajar banyak gwe. Gwe mesti ikutan sekolahnya nih, tapi mahalnya juga amboi.
Nah, malam terakhir gwe ditawarin minuman (yang sebenarnya tidak keras) bernama New Port. Sebotol-sirup cuma 12 ribu, dan ternyata emang gak enak. Tapi berhubung tuh satu botol belinya pake duit gwe, jadinya bertanggung jawab minum juga. Mana setiap minum nyetraik mulu lagi.
Edan!! Njijiki. Geuleuh pisan anjing! Mual gwe langsung.
Dan akibatnya gwe jekpot dari jam 12 malam sampe jam 3 pagi. Kurang apa lagi yang keluar dari lambung gwe coba?
Najis!
Dan sekarang, dah 3 hari asam lambung gwe berlebihan. Empat hari mungkin. Kembung, mual2. Masa makan cuma setengah piring perut langsung berasa penuh, tapi masih laper sedangkan untuk masukkin makanan lagi dah gak kuat? Gelo siah.
***
Baru aja pergi jalan2 sama Tara dan Sasa, keliling2 naek mobil gwe. Tadinya Sasa ngajak ke Circle K Cikajang (teh di mana) tapi gak jadi karena tiba2 Sasa dan Diana berantem -yg entah kenapa percuma nyebut mereka berantem- Akhirnya kita muter2 Jakarta Selatan.
Ke Menteng, tadinya mau makan di sana tapi ternyata belum rame makanan karena baru jam setengah 7. Terus ke Cikini cuma liat jadwal2 di TIM.
Tiba2 kepikiran mau makan di Wiwid, maka masuklah gwe dengan bodohnya ke Jalan Sudirman yang seharusnya gwe sadari PASTI MACET KARENA JAM PULANG KANTOR.
Nasib, terjebak di Sudirman sejam setengah sampe akhirnya sampe di Wiwid Fatmawati.
Sebelum itu, gwe salah ambil jalur karena merasa jalur cepatnya macet gila. Gwe ambil jalur lambat yang ternyata macetnya malah justru lebih naujibile... Masa 15 menit cuma jalan 10 meter!! Jakarta najis! Kalo kata email forwardan lupa dari mana, macet justru menambah pahala karena melatih kesabaran dan bisa memperbanyak dzikir -klo dzikir tentunya-. Lalu bisa menambah pahala juga kalo ada yang nyerempet mobil kita dan kita memaafkan. hahaha.
Ngomong2 nyerempet, di jalur lambat tadi gwe hampir diserempet kopaja sampah. spion kiri gwe dah kena pelan2, gwe maju ke kanan aja biar gak makin dipepet. gila tuh bis. mati kepleset pisang!
Terus karena stres melihat jalur cepat kok laju mobilnya tak terhambat, gwe keluar ke jalur cepat lewat jalur yang seharusnya buat mobil dari jalur cepat ke jalur lambat. Dipanggil polisi yang udah nungguin di depan hahaha. Tara dan Sasa dan jiper ketakutan aja. Begini ceritanya.
Ada mobil depan yang juga di jalur lambat yang stres karena kemacetan jalur lambat keluar ke jalur cepat lewat jalan yang tidak seharusnya.
Tara: Mas! Ikutin aja tuh mobil ayo!
Didz: Sok! *belokin mobil*
Setelah berhasil masuk jalur cepat, polisi nyemprit mobil gwe dan mobil depan gwe (bahkan mobil belakang gwe juga ikutan). Mobil depan gw cuma buka kaca dan ngeluarin duit, dan langsung pergi gitu aja hebat juga. Tapi gwe dah gak akan pernah panik lagi dalam situasi kayak gini. Setelah minggir,
Polisi: Ada STNK?
*Didz kasih STNK
Polisi: SIM-nya mana?
*Didz kasih SIM
*Sasa dan Tara panik
Tara: Duh! Maaf ya mas!
Sasa: Did gimana nih Did...
Didz: Ala, pengadilan juga mang napa.
*Polisi itu kemudian berbasa-basi.
Polisi: Mau ke mana, mas?
Didz: Fatmawati.
Polisi: Ha?
Didz: Fatmawati!
Polisi: APa??
Didz: (buset, basabasi apa budeg nih kepala plastik?) FATMAWATI (Congek! *pengennya sih ngelanjutin gini)
Polisi: Oh, bisa ke pengadilan?
Didz: BISA (dengan pede) Ampera kan?
Polisi: Ha?
Didz: DI AMPERA KAN?
Polisi: Ya bener.
*Lalu polisi itu beranjak dari sisi jendela gwe. Celingak-celinguk gak jelas gwe liatin dari spion.
Tara: Mas, tampangnya tuh polisi minta-minta banget sih.
Didz: Emang nyari duit.
*Polisi masih celingak-celinguk di samping polisi lain-yang lagi nilang mobil belakang- sambil sok liatin STNK dan SIM
Didz: *teriak dari dalam mobil* Pak, buatin suratnya pak! Saya buru-buru!
*Polisi makin celingak-celinguk
Didz: *ngomong ke Sasa* Buset kaga dibuat2 dah suratnya.
*Polisi kembali menghampiri jendela dan MENYERAHKAN STNK DAN SIM GWE
Polisi: Lain kali jangan diulang ya, mas!
* Sasa dan Tara relieved
Didz: Bener? Udah aja nih pak?
Polisi: Ya, dah pergi sana!
Didz: Sip.
*Didz tutup jendela dan Sasa-Tara langsung menghela napas lega.
*Didz tersenyum menang.
Moral: jangan bayar Polisi. Kemungkinan cuma 2, bayar denda yang lebih murah dari bayar polisi, atau dilepasin sama polisi itu. hihihhihi. Tapi itu kalau sedang di Jakarta berlakunya, kalo ditilang di luar kota gwe nyerah, pengadilan jauh... kayak waktu gwe ditilang naik motor masuk ke tol waktu turun dari puncak. Milih pengadilan, males juga... Di Bogor... Goblok gak tuh?
Dalam perjalanan itu ngajak Agni ikutan makan, karena gang masuk rumahnya kan persis di samping Wiwid. Tapi dia gak mau dah. Punggung keseleo? Lambung gwe keseleo. Tapi apa lebih baik gitu? Klo dia ngeliat gwe kayak orang mabok gitu makannya (karena gwe kan mual) apa yang bakal keluar dari mulutnya? Dia kan jago ngecek`i. Ah emang nasib gwe gak bisa nyela. Bagus donk mestinya? I Gde Bagus? Bukan, berarti attitude gwe bagus hihihhi.
Pas ngajak Agni tadi, Agni nelp Tara. Karena gwe nyetir, gwe terpaksa gak ngomong ma Agni (serem euy soalnya pernah hampir nabrak gara2 nelp sambil nyetir). Gantinya Sasa yang ngomong ma dia. Tapi dia ngerjain, kaga ngasi tau nama dulu.
Menurut cerita Sasa dan menurut seinget gwe.
Sasa: Tau gwe gak Agni?
Agni: Siapa sih?
Sasa: Yang sering bareng Citara!
Agni: Siapa sih, ah iseng banget! Putri ya?
Sasa: Putri? Bukan, gwe yang setiap pagi bareng Citara. Besok ketemu ya!
Agni: *teringat sebuah nama, berubah sikap* Duh, maaf kak Sasa, soalnya gak tau siapa.
Sasa: Lho kok gitu? Gak papa biasa aja kali!
Agni: Iya, kak
Sasa: Ye... biasa aja kali Agni!
Agni: Iya kak..
Sasa: bla bla bla
Agni: Iya kak, maaf kak gak bisa ikutan.
Didz: *ngakak*
Telepon disudahi.
Sasa: Did, gwe ngacoin suasana nih.. Tadinya dia masih nyablak, begitu tau gwe siapa dia langsung ya kak ya kak doank! Ya ampun!
Didz: *makin ngakak* *makin laper*
*jalan makin macet*
Haha, kadang lucu juga senioritas itu.
But still I hate it. Walaupun itu realita sih. Huhu, ah, it doesn't matter.
***
Hahaha, salam kenal buat kemeja_ungu Sastra Jerman UI 2006. Hahaha, nemu blognya tuh kebetulan dapet pas iseng nyari blog di google dengan keyword "okk ui 2006" dapatlah salah satunya dia. Malah jadi langganan baca. Nih gwe update hehe. CML dulu juga gwe nulis blog doank kerjaannya haha. Apalagi klo nanti kelas MPKT lo CML. Luar biasa, bisa nyolong harddisk =P Ups... it's supposed to be a secret...! Shhhh...
Akhirnya minggu depan mulai kuliah!!!
Sakit gwe harus dah sembuh!! Plis donk!!!
Apa gara2 mabok NewPort yang njijiki itu!??! Ajing!
Vodka campuran dgn konsentrat cuma 20 persen gitu doank aja bikin gini!
Rasanya bener2 kayak kratingdeng basi! (kayak pernah nyoba aja)
Gak layak diminum deh!
Akibatnya, gwe gak mabok tapi ENEG-nya masyaauloh... SAMPE SEKARANG
Jadi gwe baru aja ikutan touring photography-nya om gwe. Wah luar biasa, belajar banyak gwe. Gwe mesti ikutan sekolahnya nih, tapi mahalnya juga amboi.
Nah, malam terakhir gwe ditawarin minuman (yang sebenarnya tidak keras) bernama New Port. Sebotol-sirup cuma 12 ribu, dan ternyata emang gak enak. Tapi berhubung tuh satu botol belinya pake duit gwe, jadinya bertanggung jawab minum juga. Mana setiap minum nyetraik mulu lagi.
Edan!! Njijiki. Geuleuh pisan anjing! Mual gwe langsung.
Dan akibatnya gwe jekpot dari jam 12 malam sampe jam 3 pagi. Kurang apa lagi yang keluar dari lambung gwe coba?
Najis!
Dan sekarang, dah 3 hari asam lambung gwe berlebihan. Empat hari mungkin. Kembung, mual2. Masa makan cuma setengah piring perut langsung berasa penuh, tapi masih laper sedangkan untuk masukkin makanan lagi dah gak kuat? Gelo siah.
***
Baru aja pergi jalan2 sama Tara dan Sasa, keliling2 naek mobil gwe. Tadinya Sasa ngajak ke Circle K Cikajang (teh di mana) tapi gak jadi karena tiba2 Sasa dan Diana berantem -yg entah kenapa percuma nyebut mereka berantem- Akhirnya kita muter2 Jakarta Selatan.
Ke Menteng, tadinya mau makan di sana tapi ternyata belum rame makanan karena baru jam setengah 7. Terus ke Cikini cuma liat jadwal2 di TIM.
Tiba2 kepikiran mau makan di Wiwid, maka masuklah gwe dengan bodohnya ke Jalan Sudirman yang seharusnya gwe sadari PASTI MACET KARENA JAM PULANG KANTOR.
Nasib, terjebak di Sudirman sejam setengah sampe akhirnya sampe di Wiwid Fatmawati.
Sebelum itu, gwe salah ambil jalur karena merasa jalur cepatnya macet gila. Gwe ambil jalur lambat yang ternyata macetnya malah justru lebih naujibile... Masa 15 menit cuma jalan 10 meter!! Jakarta najis! Kalo kata email forwardan lupa dari mana, macet justru menambah pahala karena melatih kesabaran dan bisa memperbanyak dzikir -klo dzikir tentunya-. Lalu bisa menambah pahala juga kalo ada yang nyerempet mobil kita dan kita memaafkan. hahaha.
Ngomong2 nyerempet, di jalur lambat tadi gwe hampir diserempet kopaja sampah. spion kiri gwe dah kena pelan2, gwe maju ke kanan aja biar gak makin dipepet. gila tuh bis. mati kepleset pisang!
Terus karena stres melihat jalur cepat kok laju mobilnya tak terhambat, gwe keluar ke jalur cepat lewat jalur yang seharusnya buat mobil dari jalur cepat ke jalur lambat. Dipanggil polisi yang udah nungguin di depan hahaha. Tara dan Sasa dan jiper ketakutan aja. Begini ceritanya.
Ada mobil depan yang juga di jalur lambat yang stres karena kemacetan jalur lambat keluar ke jalur cepat lewat jalan yang tidak seharusnya.
Tara: Mas! Ikutin aja tuh mobil ayo!
Didz: Sok! *belokin mobil*
Setelah berhasil masuk jalur cepat, polisi nyemprit mobil gwe dan mobil depan gwe (bahkan mobil belakang gwe juga ikutan). Mobil depan gw cuma buka kaca dan ngeluarin duit, dan langsung pergi gitu aja hebat juga. Tapi gwe dah gak akan pernah panik lagi dalam situasi kayak gini. Setelah minggir,
Polisi: Ada STNK?
*Didz kasih STNK
Polisi: SIM-nya mana?
*Didz kasih SIM
*Sasa dan Tara panik
Tara: Duh! Maaf ya mas!
Sasa: Did gimana nih Did...
Didz: Ala, pengadilan juga mang napa.
*Polisi itu kemudian berbasa-basi.
Polisi: Mau ke mana, mas?
Didz: Fatmawati.
Polisi: Ha?
Didz: Fatmawati!
Polisi: APa??
Didz: (buset, basabasi apa budeg nih kepala plastik?) FATMAWATI (Congek! *pengennya sih ngelanjutin gini)
Polisi: Oh, bisa ke pengadilan?
Didz: BISA (dengan pede) Ampera kan?
Polisi: Ha?
Didz: DI AMPERA KAN?
Polisi: Ya bener.
*Lalu polisi itu beranjak dari sisi jendela gwe. Celingak-celinguk gak jelas gwe liatin dari spion.
Tara: Mas, tampangnya tuh polisi minta-minta banget sih.
Didz: Emang nyari duit.
*Polisi masih celingak-celinguk di samping polisi lain-yang lagi nilang mobil belakang- sambil sok liatin STNK dan SIM
Didz: *teriak dari dalam mobil* Pak, buatin suratnya pak! Saya buru-buru!
*Polisi makin celingak-celinguk
Didz: *ngomong ke Sasa* Buset kaga dibuat2 dah suratnya.
*Polisi kembali menghampiri jendela dan MENYERAHKAN STNK DAN SIM GWE
Polisi: Lain kali jangan diulang ya, mas!
* Sasa dan Tara relieved
Didz: Bener? Udah aja nih pak?
Polisi: Ya, dah pergi sana!
Didz: Sip.
*Didz tutup jendela dan Sasa-Tara langsung menghela napas lega.
*Didz tersenyum menang.
Moral: jangan bayar Polisi. Kemungkinan cuma 2, bayar denda yang lebih murah dari bayar polisi, atau dilepasin sama polisi itu. hihihhihi. Tapi itu kalau sedang di Jakarta berlakunya, kalo ditilang di luar kota gwe nyerah, pengadilan jauh... kayak waktu gwe ditilang naik motor masuk ke tol waktu turun dari puncak. Milih pengadilan, males juga... Di Bogor... Goblok gak tuh?
Dalam perjalanan itu ngajak Agni ikutan makan, karena gang masuk rumahnya kan persis di samping Wiwid. Tapi dia gak mau dah. Punggung keseleo? Lambung gwe keseleo. Tapi apa lebih baik gitu? Klo dia ngeliat gwe kayak orang mabok gitu makannya (karena gwe kan mual) apa yang bakal keluar dari mulutnya? Dia kan jago ngecek`i. Ah emang nasib gwe gak bisa nyela. Bagus donk mestinya? I Gde Bagus? Bukan, berarti attitude gwe bagus hihihhi.
Pas ngajak Agni tadi, Agni nelp Tara. Karena gwe nyetir, gwe terpaksa gak ngomong ma Agni (serem euy soalnya pernah hampir nabrak gara2 nelp sambil nyetir). Gantinya Sasa yang ngomong ma dia. Tapi dia ngerjain, kaga ngasi tau nama dulu.
Menurut cerita Sasa dan menurut seinget gwe.
Sasa: Tau gwe gak Agni?
Agni: Siapa sih?
Sasa: Yang sering bareng Citara!
Agni: Siapa sih, ah iseng banget! Putri ya?
Sasa: Putri? Bukan, gwe yang setiap pagi bareng Citara. Besok ketemu ya!
Agni: *teringat sebuah nama, berubah sikap* Duh, maaf kak Sasa, soalnya gak tau siapa.
Sasa: Lho kok gitu? Gak papa biasa aja kali!
Agni: Iya, kak
Sasa: Ye... biasa aja kali Agni!
Agni: Iya kak..
Sasa: bla bla bla
Agni: Iya kak, maaf kak gak bisa ikutan.
Didz: *ngakak*
Telepon disudahi.
Sasa: Did, gwe ngacoin suasana nih.. Tadinya dia masih nyablak, begitu tau gwe siapa dia langsung ya kak ya kak doank! Ya ampun!
Didz: *makin ngakak* *makin laper*
*jalan makin macet*
Haha, kadang lucu juga senioritas itu.
But still I hate it. Walaupun itu realita sih. Huhu, ah, it doesn't matter.
***
Hahaha, salam kenal buat kemeja_ungu Sastra Jerman UI 2006. Hahaha, nemu blognya tuh kebetulan dapet pas iseng nyari blog di google dengan keyword "okk ui 2006" dapatlah salah satunya dia. Malah jadi langganan baca. Nih gwe update hehe. CML dulu juga gwe nulis blog doank kerjaannya haha. Apalagi klo nanti kelas MPKT lo CML. Luar biasa, bisa nyolong harddisk =P Ups... it's supposed to be a secret...! Shhhh...
Akhirnya minggu depan mulai kuliah!!!
Sakit gwe harus dah sembuh!! Plis donk!!!
Tuesday, August 08, 2006
Aku? Mau Jadi Apa??
Mau...
Jadi Animator.
Nanti film besar saya adalah tentang Majapahit.
Saya buat sefiktif-fiktifnya (berhubung sejarahnya juga kurang pasti *ato gwe gak tau?*, apa lagi situsnya. anjrot dalih gini.)
Jadi kayak Garin Nugroho gitcu dech. Tapi berkutat dalam bidang animasi.
Jadinya kayak Hayao Miyazaki gitu deh.
Masalahnya adalah, saya MASIH belum bisa menggambar dengan baik sejak saya mulai menggambar komik asal-asalan di buku agenda sekolah, 10 tahun yang lalu. Mengerikan...
Saya juga mau jadi...
apa ya...
Antropologist?
Yang suka jalan2 meneliti sambil bikin film dokumenter.
Entah kenapa akhir2 ini setelah dihadapi oleh kata-kata di atas gwe jadi mikir dua kali. Walau entah apa yang dipikir sih. Kenapa? Harus cari jawaban segera nih. Refleksi berlanjut. Duh nak nak, kamu kebanyakan refleksi, nak Ditya.
Saya juga mau jadi...
Jadi...
Jadi...
Jadi apa lagi ...???!!
Kadang gwe ngeri mbayangin masa depan.
Serba gak pasti (ya iyalah)
Tapi gwe pernah belajar bahwa apa yang gak pasti itu cuma masalah hati.
Kalau kita sudah mempersiapkan diri secara matang, masa depan itu akan sesuai dengan keinginan kita. Tentu ini dalam masalah karir ya. Kalo jodoh ato mati kapan mah mana tau.
Nah, masalahnya sudah 2 taun lalu gwe belajar hal itu, sampe sekarang kok kayaknya gak pernah dijalankan ya?
Gwe terlalu ngambil sisi "berpikir santai" saja dari pelajaran itu.
Tapi sisi lain justru gwe lupain.
Yaitu berpikir selangkah lebih maju.
Tidak hanya berpikir, tapi juga melangkah selangkah lebih maju.
Tampaknya hal ini malahan gak gwe pake di dunia perkuliahan gwe,
tapi justru gwe pake di sela-sela kesibukan guna mempelajari teknik-teknik musik digital, animasi, dan film.
Mungkin dulu sebaiknya gwe masuk Fakultas Film aja kali ya?
Pikiran yang buruk kalau keluarnya sekarang.
Yang penting mah, sekarang gwe majuin aja tuh Komvis Antrop.
Kan kalo nanti antropologi visual berkembang di sini, gwe juga bisa ngembangin diri? yes no?
Tapi gimana caranya...
Ngembangin ekskul GonzArt aja kelabakan.
***
Koxis ngirim garingan yang super garing lewat sms.
Datang seorang preman nyamperin seorang korban. Preman itu menggrawut baju korban dan dia berteriak-teriak.
Preman: Jawab!! Ayo cepat jawab!!
Korban: Iya iya saya jawab! Tapi pertanyaannya apa??
Sumpah garing gila!!
***
Ada seorang teman yang melankolis sejati.
Melankolis tapi "normal" gitu...
Kan katanya melankolis tuh puitis, suka merenung dan menyendiri, terpaku pada masa lalu, detil, rinci, pesimis, dan penuh perhitungan.
Dia juga suka galer.
Di mana-mana galer! Tangannya kaga bisa dikontrol.
Buktinya, Jawa menangkap foto dia galer di depan cewek.
Njiji`i lu Nom..
Maka kami sepakat bahwa orang yang suka galer itu MELANKOLIS.
Bahkan bikin kesepalatan baru klo Anom itu bukan cuma melankolis, tapi GALERKOLIS.
Psikotest kan ada 40 baris berisi 4 kolom pilihan masing-masing sesuai personality.
Nah, dengan standar kita, ada satu baris lagi yang menjadikan itu 41.
Yaitu
| Galer | Nggak | Nggak | Nggak |
Kalo milih GALER, 40 baris yang lain itu gak diliat lagi.
Itu udah jelas hasilnya pasti MELANKOLIS.
Nanti sertifikat Personality-nya itu akan bertuliskan,
"Anda itu POKOKNYA MELANKOLIS SEJATI GAK BOLEH DITAWAR-TAWAR LAGI GAK MAU TAU APA PENDAPAT LO POKOKNYA GAK ADA YANG LAIN SELAIN MELANKOLIS KARENA KAMU GALER"
Trus bordernya sertifikat itu berupa tulisan-tulisan "Melankolis" "Galer" disambung-sambung.
Background sertifikatnya juga dipenuhi tulisan tipis "Melankolis"
Ngeri juga.
Jadi Animator.
Nanti film besar saya adalah tentang Majapahit.
Saya buat sefiktif-fiktifnya (berhubung sejarahnya juga kurang pasti *ato gwe gak tau?*, apa lagi situsnya. anjrot dalih gini.)
Jadi kayak Garin Nugroho gitcu dech. Tapi berkutat dalam bidang animasi.
Jadinya kayak Hayao Miyazaki gitu deh.
Masalahnya adalah, saya MASIH belum bisa menggambar dengan baik sejak saya mulai menggambar komik asal-asalan di buku agenda sekolah, 10 tahun yang lalu. Mengerikan...
Saya juga mau jadi...
apa ya...
Antropologist?
Yang suka jalan2 meneliti sambil bikin film dokumenter.
Entah kenapa akhir2 ini setelah dihadapi oleh kata-kata di atas gwe jadi mikir dua kali. Walau entah apa yang dipikir sih. Kenapa? Harus cari jawaban segera nih. Refleksi berlanjut. Duh nak nak, kamu kebanyakan refleksi, nak Ditya.
Saya juga mau jadi...
Jadi...
Jadi...
Jadi apa lagi ...???!!
Kadang gwe ngeri mbayangin masa depan.
Serba gak pasti (ya iyalah)
Tapi gwe pernah belajar bahwa apa yang gak pasti itu cuma masalah hati.
Kalau kita sudah mempersiapkan diri secara matang, masa depan itu akan sesuai dengan keinginan kita. Tentu ini dalam masalah karir ya. Kalo jodoh ato mati kapan mah mana tau.
Nah, masalahnya sudah 2 taun lalu gwe belajar hal itu, sampe sekarang kok kayaknya gak pernah dijalankan ya?
Gwe terlalu ngambil sisi "berpikir santai" saja dari pelajaran itu.
Tapi sisi lain justru gwe lupain.
Yaitu berpikir selangkah lebih maju.
Tidak hanya berpikir, tapi juga melangkah selangkah lebih maju.
Tampaknya hal ini malahan gak gwe pake di dunia perkuliahan gwe,
tapi justru gwe pake di sela-sela kesibukan guna mempelajari teknik-teknik musik digital, animasi, dan film.
Mungkin dulu sebaiknya gwe masuk Fakultas Film aja kali ya?
Pikiran yang buruk kalau keluarnya sekarang.
Yang penting mah, sekarang gwe majuin aja tuh Komvis Antrop.
Kan kalo nanti antropologi visual berkembang di sini, gwe juga bisa ngembangin diri? yes no?
Tapi gimana caranya...
Ngembangin ekskul GonzArt aja kelabakan.
***
Koxis ngirim garingan yang super garing lewat sms.
Datang seorang preman nyamperin seorang korban. Preman itu menggrawut baju korban dan dia berteriak-teriak.
Preman: Jawab!! Ayo cepat jawab!!
Korban: Iya iya saya jawab! Tapi pertanyaannya apa??
Sumpah garing gila!!
***
Ada seorang teman yang melankolis sejati.
Melankolis tapi "normal" gitu...
Kan katanya melankolis tuh puitis, suka merenung dan menyendiri, terpaku pada masa lalu, detil, rinci, pesimis, dan penuh perhitungan.
Dia juga suka galer.
Di mana-mana galer! Tangannya kaga bisa dikontrol.
Buktinya, Jawa menangkap foto dia galer di depan cewek.
Njiji`i lu Nom..
Maka kami sepakat bahwa orang yang suka galer itu MELANKOLIS.
Bahkan bikin kesepalatan baru klo Anom itu bukan cuma melankolis, tapi GALERKOLIS.
Psikotest kan ada 40 baris berisi 4 kolom pilihan masing-masing sesuai personality.
Nah, dengan standar kita, ada satu baris lagi yang menjadikan itu 41.
Yaitu
| Galer | Nggak | Nggak | Nggak |
Kalo milih GALER, 40 baris yang lain itu gak diliat lagi.
Itu udah jelas hasilnya pasti MELANKOLIS.
Nanti sertifikat Personality-nya itu akan bertuliskan,
"Anda itu POKOKNYA MELANKOLIS SEJATI GAK BOLEH DITAWAR-TAWAR LAGI GAK MAU TAU APA PENDAPAT LO POKOKNYA GAK ADA YANG LAIN SELAIN MELANKOLIS KARENA KAMU GALER"
Trus bordernya sertifikat itu berupa tulisan-tulisan "Melankolis" "Galer" disambung-sambung.
Background sertifikatnya juga dipenuhi tulisan tipis "Melankolis"
Ngeri juga.
Subscribe to:
Posts (Atom)